Berbisnis Cacing Tanah, Pria Ini Raup Omzet Hingga Rp300 Juta per Bulan


Pertanianku – Berkat cacing tanah, Abdul Azis Adam Maulida menjadi pebisnis yang sukses. Cacing tanah bagi sebagian orang adalah hewan yang sangat menjijikan, tetapi tidak bagi Adam, biasa ia disapa.

berbisnis-cacing-tanah-pria-ini-raup-omzet-hingga-rp300-juta-per-bulan

Adam telah menekuni bisnis cacing tanah ini sejak empat tahun yang lalu. Pria lulusan Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh Nobember (ITS) ini memang sejak di bangku kuliah tertarik dan ingin berwirausaha setelah selesai kuliah. Adam pun lantas tertarik dengan bisnis budidaya cacing tanah yang dianggap memiliki potensi. Dan hal tersebut benar terjadi. Saat ini Adam mendapatkan omzet hingga Rp300 juta setiap bulannya. Sangat menjanjikan bukan?

Pada 2010 Adam meninggalkan pekerjaan kantorannya untuk menekuni cacing tanah. “Menurut saya, kalau bekerja di perusahaan, seseorang susah berkembang karena harus berhadapan dengan batasan dari sistem perusahaan tersebut,” ujar Adam, seperti mengutip Kompas (15/12).

Adam pun memberanikan diri untuk memulai usahanya tersebut. Awal 2010 lalu ia menggeluti budidaya belut yang sedang nge-tren kala itu. Adam memulai usahanya dengan modal sebesar Rp20 juta, termasuk untuk membeli sekitar dua kuintal belut.

Namun, Adam tak menyangka, banyak kendala dalam beternak belut. Sejak awal, ia sering mendapati belut-belut itu mati.

“Pokoknya, sulit sekali bagi saya untuk membudidayakan belut sehingga hanya enam bulan saya beternak belut,” lanjut Adam. Padahal, Adam sudah ikut berbagai seminar mengenai pembiakan belut.

Yang tersisa hanyalah pakan belut, yakni cacing tanah sebanyak empat kilogram. Dia mengamati, ketika semua belutnya mati, cacing-cacing itu tetap bertahan, bahkan, berkembang biak. Dari situlah Adam mendapat ide untuk membudidayakan cacing yang memiliki nama Latin Lumbricus rubellus.

Tepatnya, pada Agustus 2010, Adam mulai mengembangbiakkan cacing tanah. Namun, sebelumnya, Adam mempelajari seluk-beluk budidaya cacing tanah dengan membaca buku dan juga belajar secara autodidak serta praktik langsung di lapangan.

Baca Juga:  Harga Madu Paling Mahal di Dunia Ini Bikin Melongo

Dengan modal Rp200.000 kala itu, untuk media, Adam membeli kotak kayu ukuran 40 × 50 cm yang ditumpuk hingga 12 tingkat. Jadi, Adam tak perlu lahan yang terlalu luas.

Adam tak perlu membeli makanan cacing. Cacing bisa diberi makan dari limbah rumah tangga ataupun limbah pasar. Ia mengolah limbah dari para tetangganya untuk dijadikan pakan cacing. “Cara membudidayakan cacing memang sangat mudah. Makanya saya tertarik dan tak pernah berpikir untuk berhenti sampai sekarang,” lanjutnya.

Adam mengaku, ketika mulai merintis budidaya cacing, dia belum mendapatkan pasar sama sekali. Hingga pada akhir 2010, dia mendapat titik terang. Seorang pemilik tempat pemancingan mendatangi peternakannya untuk memesan cacing.

Dulu, Rumah Cacing, nama peternakan cacing milik Adam, hanya bisa memproduksi lima kilogram cacing per minggu. Akan tetapi, kini, dia bisa memproduksi hingga tujuh ton cacing tanah per bulan. Omzetnya pun meningkat pesat. Dalam sebulan Adam bisa mengantongi sekitar Rp300 juta.

Adam bilang, ia butuh proses cukup panjang untuk bisa menemui kesuksesan seperti saat ini. Setelah memasok cacing untuk beberapa tempat pemancingan di Malang, Adam semakin giat meningkatkan produksi. Nama Adam pun mulai dikenal penduduk Malang. Ia bahkan disebut-sebut orang sebagai Bapak Cacing.

Pada 2011 ia mendapat order untuk memasok cacing oleh Dinas Perikanan Provinsi Jawa Timur. Sayang, Adam belum bisa langsung menyanggupi. Pasalnya, produksi cacingnya per bulan belum mencapai satu ton, seperti permintaan Dinas Perikanan itu.

Tak hilang akal, Adam menularkan ilmunya ke orang lain. Dia melakukan sosialisasi soal cacing ke masyarakat di sekitar Malang, sekaligus mengajak mereka untuk ikut membudidayakan cacing. “Saya ajak mereka untuk datang ke Rumah Cacing, lalu saya ajari cara beternak cacing,” ucap dia.

Baca Juga:  Jalankan Bisnis Kopi Pria Ini Raup Omzet Rp190 Juta

Di awal, usaha ini belum berbuah banyak. Hanya ada dua orang yang mau bergabung dengan Adam. Lalu, Adam mengembangkan sistem plasma dengan lebih terkoordinasi. Dengan sistem plasma, siapa pun yang bergabung akan mendapat pelatihan dari Rumah Cacing. Selanjutnya, Adam akan membeli hasil panen cacing dari anggota plasma.

Sampai saat ini, Adam sudah memiliki sekitar 1.600 anggota plasma. Namun, tidak semua anggota bisa konsisten memasok cacing padanya. “Dari keseluruhan jumlah anggota, sekitar 700 orang aktif menjual hasil panennya pada saya,” kata dia.

Suami Heni Nur Rahmania ini mengatakan, dalam sehari bisa disambangi sekitar 100 orang yang ingin belajar budidaya cacing. Adam menuturkan, budidaya cacing sebenarnya sangat gampang. Lagipula tingkat keberhasilan budidaya cacing hampir 100%.

Sejauh ini, Adam tak menemukan penyakit atau hama yang mengganggu pertumbuhan cacing. “Kalau sudah tahu peluang usahanya pasti tertarik karena mudah,” tuturnya.

Saat ini Adam telah memiliki delapan orang karyawan. Kandang cacing pun sudah tak menggunakan kotak kayu lagi. Adam membangun 100 kolam yang dibuat dari batubata. Sekarang, Adam jadi pemasok utama cacing tanah untuk Dinas Perikanan Provinsi Jatim dan juga masih melayani penjualan kepada para pemilik usaha pemancingan dan pengusaha perikanan di Jawa Timur.

loading...
loading...