Budidaya Ikan Hias Air Laut Terus Meningkat

0

Pertanianku – Indonesia menjadi salah satu produsen dari lima besar eksportir ikan hias terbesar di dunia setelah Singapura, Jepang, Republik Ceko, dan Spanyol. Hal ini karena didorong perkembangan prosuksi ikan hias dalam negeri cukup meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan data produksi ikan pada 2011 mencapai 945,3 juta ekor dan terus meningkat menjadi 1 miliar ekor pada 2015. Ditambah keanekaragaman biota laut Indonesia yang sangat melimpah. Hal tersebut disampaikan oleh Slamet Direktur Jenderal Perikanan Budidaya.

budidaya-ikan-hias-air-laut-terus-meningkat

“Ikan hias baik dari air tawar maupun air laut Indonesia, sangat diminati oleh pasar, baik pasar domestik, regional dan bahkan internasional, dengan nilai ekspor pada tahun 2014 mencapai USD 20,86 juta. Oleh karena itu, sebagai bagian tanggung jawab dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB), untuk mengembangkan ikan hias hasil budidaya, baik air tawar maupun air laut. Khusus untuk ikan laut, sedikit demi sedikit, kita mulai kuasai teknologi pembenihan dan pembesarannya, sehingga tidak lagi tergantung dari alam dan mendukung keberlanjutan lingkungan,” kata Slamet seperti mengutip Jitunews (21/12).

Teknologi budidaya ikan hias khususnya ikan hias air laut, telah dikembangkan oleh BPBL Ambon. “ikan hias air laut seperti clown fish, mandarin fish, banggai cardinal fish dan blue devil, telah berhasil dikembangkan dan dikuasai teknologinya. Saat ini BPBL Ambon juga tengah melakukan domestikasi untuk ikan hias letter six atau dori dan juga angel piyama. Ini sebagai wujud komitmen dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui DJPB untuk melindungi alam dan memanfaatkan potensi alam Indonesia secara bijaksana dan ramah lingkungan serta berkelanjutan,” lanjut Slamet.

“Kemampuan untuk memproduksi ikan hias air laut dari unit pembenihan, saat ini bukan hanya bisa dilakukan oleh pemodal besar. Masyarakat biasa dengan modal terbatas atau relatif terjangkau dapat melakukan usaha pembesaran atau pendederan ikan hias, khususnya clown fish. Dengan teknologi resirkulasi terapan dan dengan modal sekitar Rp3,5 juta, pembesaran ikan clown fish dapat dilakukan di belakang rumah,” tutur Slamet.

Sistem resirkulasi dalam pembesaran clown fish skala rumah tangga, telah dikembangkan oleh BPBL Ambon. Dengan modal awal sekitar Rp3,5 juta, dalam waktu empat bulan, dapat dihasilkan Rp10 juta. “Ini sungguh usaha yang menguntungkan dan dapat dilakukan oleh ibu rumah tangga. Benih ukuran 1 cm dapat diperoleh dari BPBl Ambon, masyarakat membesarkannya sampai ukuran 4 cm dan bisa menjualnya. Saat ini sudah ada 30 kelompok yang melakukan usaha ini dan sudah menarik minat kelompok lainnya,” tambahnya.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, mengapresiasi hasil kegiatan BPBL Ambon yang telah berhasil membudidayakan ikan hias laut. Susi mengatakan bahwa dengan teknologi pembenihan dan budidaya yang telah dikuasai, tidak perlu lagi mengambil ikan hias laut dari alam sehingga tidak merusak ekosistem. Bahkan, banggai cardinal fish telah berhasil dikeluarkan dari daftar CITES, karena Indonesia telah berhasil membenihkan dan membesarkannya.

loading...
loading...