Harga Cabai Semakin Tinggi, Masyarakat Perbatasan Beli Cabai Malaysia


Pertanianku – Beberapa minggu belakangan ini harga cabai terus meroket di perbatasan Indonesia—Malaysia. Harga cabai yang melonjak drastis tersebut dipicu karena kegagalan panen oleh petani cabai di perbatasan karena curah hujan yang sangat tinggi. Akibatnya, pasokan cabai dari Pulau Jawa sejak akhir 2016 minim ke perbatasan.

Salah seorang pedagang cabai bernama Yudi mengatakan bahwa harga cabai saat ini sangat mahal dan hanya dipasok oleh petani lokal. Namun, hasil panen juga tidak maksimal karena faktor cuaca, akibatnya harga menjadi tinggi.

Pasokan cabai yang biasanya normal dari Pulau Jawa juga mengalami kendala.

“Akhir tahun 2016 lalu ada pasokan dari Pulau Kawa, ketika itu harga cabai masih normal Rp45.000 per kg. Setelah itu pasokan langka dan petani gagal panen harga menjadi meroket, saat ini mencapai Rp100.000 per kg,” jelas Yudi, melansir Okezone (10/1/2017).

Dia mengakui, di pasar tradisional perbatasan, hanya ada tiga lapak pedagang yang menjual cabai segar.

“Saat ini selain mahal, yang menjual cabai segar juga sangat terbatas,” ucapnya.

Menurutnya, jika pun ada cabai, tetapi pasokan cabai datangnya dari Malaysia meski bukan cabai segar.

Cabai yang banyak ditemui di pasar tradisional berasal dari Malaysia berjenis cabai kering. Selain cabai, bumbu dapur lainnya juga dipasok dari negeri jiran tersebut.

“Sejauh ini masyarakat mengandalkan cabai dari Malaysia karena harga tak terlalu mahal,” papar Yudi.

Baca Juga:  Populasi Orangutan Kalimantan Mengkhawatirkan
loading...
loading...