Inilah Langkah Efektif Pemerintah Atasi Harga Cabai

Pertanianku – Beberapa minggu terakhir ini harga cabai menjadi fokus utama pemerintah karena kenaikannya yang sangat tinggi. Oleh karena itu, DPR RI berharap pemerintah menemukan langkah efektif untuk menyelesaikan persoalan kenaikan harga cabai. Bahkan hingga saat ini, DPR melihat langkah pemerintah untuk menurunkan harga cabai masih belum menampakkan hasil yang maksimal.

Padahal, harga cabai adalah salah satu kontributor utama dalam inflasi. Jika inflasi naik, daya beli masyarakat tergerus. “Pemerintah harus menjaga daya beli masyakat, karena hal ini menyumbang lebih dari separuh PDB. Jika ini berlanjut, ujungnya target pertumbuhan bisa meleset,” tutur anggota Komisi XI DPR RI Ecky Awal Mucharam, seperti dilansir dari Republika (18/1/2017).

Dia menyebut meski realisasi inflasi umum relatif rendah, inflasi pada barang-barang gejolaknya masih sangat tinggi. Di satu sisi, pemerintah terlihat sukses menekan inflasi, sedangkan inflasi dari sisi harga barang-barang masih cukup tinggi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa inflasi barang-barang bergejolak pada akhir 2016 mencapai mencapai 5,92%, inflasi umum 3,02%, inflasi inti 3,07%, dan inflasi barang-barang yang diatur pemerintah sebesar 0,21%. Sepanjang 2016, kontribusi cabai terhadap pembentukan inflasi mencapai 0,35% dan menjadi kontributor utama. Akhir-akhir ini harga cabai melambung tinggi hingga Rp160.000 per kg. Bahkan, di beberapa pasar tradisional melebihi Rp200.000 per kg.

Ecky mengatakan sebenarnya persoalan harga cabai bukan hanya terkait dengan cuaca yang sering dianggap menjadi persoalan utama lonjakan harga cabai. Hal ini justru, lanjut Ecky adalah persoalan tata niaga, mulai dari proses produksi, distribusi, pemasaran, hingga konsumsi akhir.

Ia mengatakan persoalan di sisi produksi terlihat bagaimana pengaruh dari tengkulak yang menjadi penyuplai dana dan sarana produksi bagi petani di daerah. Pemerintah dinilai harus berani masuk lebih dalam ke bisnis prosesnya sehingga dapat memutus jaring-jaring tengkulak. Ditambah lagi, dia melihat kredit usaha rakyat (KUR) belum menyasar ke sektor pertanian secara efektif. Keterbatasan faktor-faktor produksi inilah yang membuat petani terpaksa terikat kepada tengkulak.

Selain itu, Ecky mengatakan jalur distribusi turut memengaruhi harga cabai. “Kondisi jalan yang rusak menyebabkan biaya angkut semakin tinggi. Keseluruhan biaya tersebut akan dibebankan kepada konsumen,” tutupnya.

loading...
loading...