Kementan Perketat Penyaluran Pupuk Bersubsidi


Pertanianku – Provinsi Sumatera Utara (Sumut) mendapatkan alokasi pupuk bersubsidi dari Kementerian Pertanian (Kementan) sebanyak 385.434 ton untuk lima jenis pupuk.

Mentan memperketat penyaluran dan alokasi untuk masing-masing daerah agar sesuai dengan kebutuhan kelompok petani. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi (Setdaprov) Sumut, Ernita Bangun menjelaskan, sudah mengeluarkan surat keputusan (SK) Kepala Dinas Pertanian Pemprov Sumut sebagai tindak lanjut Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 69/Permentan/sr.310/12/2017 tentang Alokasi dan Harga Eceran Tertinggi (HET) Pupuk Bersubsidi untuk Sektor Pertanian tahun 2017.

Dalam Permentan disebutkan bahwa alokasi pupuk urea untuk Sumut sebanyak 151.100 ton, pupuk Sp-36 sebanyak 45.165 ton, pupuk ZA sebanyak 49.319 ton, pupuk NPK sebanyak 110.500 ton, dan pupuk organik sebanyak 29.350 ton. Dari rincian ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut mengeluarkan kebijakan untuk merinci penyaluran pupuk bersubsidi sehingga lebih jelas peruntukannya di setiap daerah. Penyaluran pupuk bersubsidi dilakukan oleh distributor pupuk.

Dari jumlah alokasi disesuaikan dengan kebutuhan petani, yakni sesuai dengan rencana defenitif kebutuhan kelompok tani (RDKK). Tak hanya itu, HET pupuk bersubsidi sudah ditetapkan sehingga pihak penyalur tidak bisa mempermainkan harga yang bedanya hampir sekitar 60—70% dari pupuk nonsubsidi. Untuk HET pupuk urea Rp1.800 per kg, pupuk SP-36 Rp2.000, pupuk ZA Rp1.400, pupuk NPK Rp2.300, dan pupuk organik Rp500 per kg. Penyaluran pupuk juga akan diawasi Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida yang diketuai Sekdaprov Sumut, Hasban Ritonga.

Kabupaten/kota juga turut membantu pengawasan. Pengamat Pertanian Sumut dari Universitas Muhammadiyah Sumut (UMSU) yang juga Wakil Ketua Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia (MAI) Sumut, Syahri Syawal pesimistis penyaluran pupuk subsidi bisa tepat sasaran. Dari dulu, penyaluran diwarnai penyelewengan.

Baca Juga:  Penyeludupan Benih Lobster Kembali Terjadi, Kini Sebanyak 60 Juta

“Bisa kita lihat, pupuk bersubsidi yang warnanya pink bisa berubah warna di pasaran menjadi warna putih dan menjadi pupuk yang nonsubsidi,” tutur Syawal, seperti melansir Okezone (26/1/2017).

Selain itu, ketersediaan pupuk bersubsidi tidak sesuai jadwal musim tanam sehingga petani terpaksa membeli pupuk nonsubsidi. Di sisi lain, pupuk bersubsidi yang diberikan kepada petani bukan kualitas pupuk nomor satu. Belum lagi hingga saat ini pupuk Kcl 48% juga belum masuk dalam pupuk subsidi sehingga masih memberatkan petani.

loading...
loading...