Harga Cabai Rawit di Malang Dibanderol Rp140 Ribu per Kilogram

Pertanianku – Kenaikan harga cabai telah terjadi beberapa bulan ini. Bahkan, hingga saat ini belum ada tanda-tanda penurunan harga. Seperti di Kota Malang, Jawa Timur, hingga saat ini harga cabai rawit menembus Rp140.000/kg atau naik sekitar Rp20.000—Rp25.000/kg dari harga akhir pekan lalu. Pedagang bumbu-bumbuan di Pasar Dinoyo Arsani di Kota Malang mengaku harga cabai sempat turun menjadi Rp90.000 per kg.

Namun, hanya bertahan tidak sampai sepekan, kemudian secara perlahan naik lagi. “Sekarang harganya sudah menembus angka Rp140.000 per kg. Itu pun masih ada campurannya cabai hijau, bukan kualitas super,” kata Arsani, seperti melansir Antaranews (8/2).

Menurutnya, hampir setiap hari harga cabai rawit mengalami kenaikan. Harga saat ini (Rp140.000 per kg) merupakan harga tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun lalu, paling mahal antara Rp90.000 dan Rp100.000 per kg.

Menanggapi tingginya harga cabai tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Malang, Indri Ardoyo, mengaku akan mengumpulkan penyuluh pertanian untuk mencari solusi bagaimana menyikapi kenaikan harga cabai yang sangat tinggi tersebut. Indri mengaku saat ini dirinya masih melakukan pendampingan pada warga untuk budi daya penanaman cabai di pekarangan.

Hanya saja, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan setempat masih belum mengantongi data luasan areal pekarangan warga kawasan kota (urban farming) yang ditanami komoditas cabai.

“Kami akan menggiatkan penanaman komoditas ini, apalagi harga cabai fluktuasi, bahkan cenderung tinggi seperti sekarang ini. Jika rumah tangga bisa menanam cabai dan memanennya di saat harga cabai rawit tinggi, tidak akan terlalu mempengaruhi daya beli masyarakat terhadap komoditas kebutuhan bumbu-bumbuan tersebut,” katanya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang, Dudi Herawadi memperkirakan harga cabai rawit di Kota Malang berangsur turun pada bulan Maret 2017. Senada dengan Indri, Dudi juga menyarankan konsumen rumah tangga untuk menerapkan sistem urban farming.

“Tanam cabai di lahan pekarangan pakai sistem urban farming agar lebih bermanfaat dan ketika harga melambung, ibu-ibu tidak perlu risau lagi karena cabai,” lanjutnya.

Sementara itu, di tingkat pedagang kecil (kios) di perkampungan, pedagang sudah mengemas cabai dalam bungkusan dengan harga rata-rata Rp3.000 yang berisi 8—10 biji cabai campur (warna hijau dan merah).

“Kalau dijual dengan takaran timbangan, kasihan pembeli yang lain tidak kebagian. Akan tetapi, kalau sudah dibungkusi begini, paling konsumen hanya membeli dua bungkus dan saya juga bisa mengukur kalau sekilo jadi berapa bungkus sehingga saya tidak rugi,” ungkap Muryati, seorang pedagang pracangan di Kampung Dinoyo.

loading...
loading...