Akhiri Impor, Mentan Targetkan Produksi Jagung 3,5 Juta Ton

Pertanianku – Pemerintah dalam hal ini Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menargetkan untuk meningkatkan produksi jagung sebesar 3,5 juta ton guna mengakhiri impor jagung yang kerap dilakukan. Mentan berupaya mencapainya pada puncak panen raya 2017 mendatang.

Akhiri Impor, Mentan Targetkan Produksi Jagung 3,5 Juta Ton

Dalam hal ini Mentan tidak akan bekerja sendiri karena dibantu oleh Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) untuk menyerap hasil panen nantinya. Hal ini dilakukan untuk menghentikan ketergantungan Indonesia dalam hal impor bahan pakan khususnya jagung.

“Tahap pertama dimulai dengan mengembangkan jagung seluas 724 ribu hektare tersebar di 29 provinsi dengan target produksi 3,5 juta ton jagung kering pipil,” ungkap Menteri Amran, seperti dikutip Antaranews.com (21/9).

Amran mengatakan, sebelumnya Indonesia masih mengimpor 3,6 juta ton jagung dengan luas lahan yang dibutuhkan 700 ribu hektare.

Guna meningkatkan produksi, mengendalikan impor, serta mendorong ekspor jagung, Kementerian Pertanian pun menyiapkan anggaran untuk pengembangan lahan jagung seluas 1 juta hektare. Namun, untuk tahap pertama ditetapkan 724 ribu hektare didukung kemitraan antara industri pakan ternak dan petani jagung.

Pola kemitraan ini ditandai dengan penandatanganan kesepakatan bersama (MOU) antara Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) dan 29 kepala dinas pertanian provinsi. Kesepakatan tersebut akan memfasilitasi sarana dan memberdayakan petani guna meningkatkan produksi jagung. Selain itu, berupaya menerbitkan harga acuan pembelian jagung di tingkat petani dan harga di tingkat konsumen.

“Sekarang kita sudah sepakat membagi wilayah, kemudian 41 perusahaan (makanan ternak) dan kepala dinas berkomitmen. Katakanlah satu perusahaan butuh jagung 200 ribu ton setiap tahun, berarti kita tentukan kelompok taninya siapa, gabungan kelompok taninya, kemudian Kementan mendukung dengan memberikan bantuan infrastruktur,” jelas Amran.

Amran menjelaskan kondisi tata niaga jagung masih dirasakan belum efisien karena rantai pasok terlalu panjang. Hasil jagung petani sebagian besar (86%) juga masih dijual ke pedagang.

Hal ini berakibat profit margin yang dinikmati 20,3 juta petani jagung sekitar Rp23 triliun sangat kecil dibandingkan profit margin yang dinikmati 1.700 “middleman” sebesar Rp41,3 triliun. Oleh karena itu, diperlukan intervensi pemerintah menangani tata niaga jagung.

Untuk kebijakan jangka menengah dan panjang, Kementan juga mendorong investasi pada lahan hutan 500 ribu hektare dan lahan Perhutani 265 ribu hektare. Selain itu, Kementan akan memberi kemudahan bagi industri untuk membangun agribisnis jagung skala luas.

Mentan juga menaikkan anggaran jagung hingga 10 kali lipat. Pada 2014 anggaran jagung hanya Rp100 miliar, kemudian 2015 ditingkatkan menjadi Rp1,2 triliun, dan pada tahun ini ditingkatkan lagi menjadi Rp2,1 triliun.

loading...
loading...