Begini Caranya Mengurus Sertifikasi Organik


    Pertanianku — Bahan pangan organik, baik sayuran maupun buah-buahan mulai banyak digemari masyarakat. Ketiadaan penggunaan pestisida dan pupuk kimia membuat anggapan bahan pangan tersebut lebih sehat dan bergizi tinggi.

    Tidak Ada Dasar Ilmiah Mengenai Hubungan antara Makanan Organik dan Kesehatan

    Pangan organik seperti sayuran, buah-buahan, telur, daging, dan susu lebih banyak dijual di supermaket. Harganya pun bisa enam kali lipat lebih tinggi daripada yang konvensional (non-organik).

    Bagaimana membedakan antara bahan pangan organik dan non-organik? Secara tampilan fisik relatif sama. Hal yang membedakannya adalah label organik pada kemasan. Akan tetapi, tidak semua bahan pangan organik memiliki label tadi.

    Label kemasan organik didapat melalui proses panjang dan berbiaya cukup mahal. Tidak semua orang (petani) mampu mendapatkan label sertifikasi organik pada produk yang dihasilkan. Untuk mendapatkan sertifikat tersebut pun, harus melalui lembaga independen yang ditunjuk pemerintah.

    “Yang berhak mengeluarkan sertifikat adalah lembaga independen yang ditunjuk oleh pemerintah di bagian pascapanen. Harganya Rp12 juta per tahun,” ujar Profesor Anas D. Susila, ahli sayuran dan pertanian organik seperti dikutip dari CNNIndonesia.com (16/10).

    Ada tahapan dan beberapa persyaratan untuk mendapatkan sertifikat organik. Selain itu, para petani harus mengisi beberapa formulir pendaftaran produk pangannya. Selanjutnya, akan ada proses pengecekan mulai dari proses budidaya hingga penyimpanan benih.

    “Harus ada tulisannya, dari petani mana, kapan dipanen, di petak nomer berapa. Lalu, penyimpanan di baris mana dan nomor berapa. Semua pencatatan itu yang luar biasa sulit bagi petani. Tapi itu tuntutan untuk memiliki sertifikat,” papar Anas.

    Menurut Aliansi Organis Indonesia (AOI) butuh 60—90 hari untuk melakukan pengecekan organik. Pada rentang waktu tersebut akan ada inspeksi eksternal di lapangan mengenai penerapan pertanian organik yang dilakukan petani.

    Baca Juga:  Tren Minuman Herbal Datangkan Omzet Belasan Juta, Benarkah?

    Informasi dari AOI sertifikat organik bisa dimiliki oleh siapa saja, baik itu petani, supplier, maupun supermarket. Demikian pula halnya dengan setiap bahan pangan. Secara khusus tidak ada perbedaan sertifikat, baik untuk nabati (buah-buahan dan sayur) maupun hewani (daging, telur, dan susu).

    Akan tetapi, menurut US Department of Agriculture (USDA) sertifikat organik berbeda di tiap tingkatannya. Pertama, 100 persen organik, yaitu bahan pangan yang seluruh proses dan bahan bakunya dibudidayakan dengan organik. Kedua, 95 persen organik atau lebih, artinya 95% proses budidayanya dilakukan secara organik. Pada tingkatan kedua ini, label kemasan yang tertulis hanya ‘organik’. Ketiga, level bahan organik, maksudnya hanya terdapat beberapa bahan yang organik.

    Dari data AOI, komoditas terbanyak dalam penggunaan sertifikat organik antara lain kopi, kakao, dan madu hutan.

    loading...
    loading...