Budidaya Labi-Labi sebagai Peluang Usaha

0

Pertanianku – Labi-labi (Pelodiscus sinensis) atau masyarakat mengenalnya dengan nama bulus merupakan hewan sejenis kura-kura yang hidupnya di air tawar. Makanan labi-labi adalah ikan dan udang kecil. Jika dipelihara, labi-labi biasanya diberikan pakan berupa cincangan ikan atau isi perut ternak ruminansia.

Budidaya Labi-Labi sebagai Peluang Usaha

Hewan ini juga bisa dikonsumsi. Daerah yang banyak mengonsumsi labi-labi salah satunya Bali dan NTB. Selain dapat dikonsumsi, labi-labi dapat dijadikan minyak. Minyak tersebut dipercaya menyembuhkan berbagai jenis penyakit kulit. Dalam keadaan hidup, hewan yang biasa disebut bulus ini sering dipakai sebagai salah satu perlengkapan upacara keagamaan etnis Cina.

Bulus memiliki nilai ekonomis tinggi. Hampir seluruh bagian tubuhnya dapat dimanfaatkan, baik daging maupun cangkangnya. Selama ini, pasokan labi-labi dipenuhi dari tangkapan alam karena hasil budidaya belum dapat memenuhi permintaan yang ada. Namun, labi-labi juga bisa dibudidayakan layaknya hewan konsumsi lainnya. Berikut Teknik tepat budidaya labi-labi

Memilih induk

Langkah awal untuk budidaya labi-labi adalah memilih indukan untuk dibudidayakan. Labi-labi yang hendak dipijahkan di kolam harus memenuhi persyaratan khusus, di antaranya umur dan ukuran. Selain itu, perbandingan antara induk jantan dan betina harus tepat.

Pemijahan

Pemijahan biasanya akan dilakukan setelah 7—12 hari setelah penebaran induk. Induk akan bertelur pada malam hari, yaitu antara pukul 20.00—02.00 dini hari. Seekor induk betina biasanya akan menghasilkan 30—40 butir telur. Telur labi-labi berbentuk seperti bola pingpong berwarna krem dengan diameter 1—3 cm.

Telur yang selesai dikeluarkan oleh induk harus segera dipindahkan ke dalam ruang inkubator atau ruang penetasan telur. Sementara itu, telur yang berada di dalam timbunan pasir bisa dikeluarkan dengan bantuan tangan atau sekop.

Penetasan telur dan perawatan benih

Telur-telur yang telah disusun dimasukkan ke dalam kotak penetasan yang diisi pasir setebal 5 cm. Kotak tersebut berukuran sekitar 40 cm × 60 cm × 5 cm. Selain itu, disediakan juga baskom berisi air yang dipasang sejajar dengan permukaan lantai. Baskom ini akan dibutuhkan oleh tukik (anak bulus) setelah keluar dari cangkang. Selama proses penetasan, suhu ruangan diusahakan antara 29—33 derajat Celsius dengan kelembapan 85—95%. Telur akan menetas setelah 40—45 hari pada suhu 30 derajat Celsius. Namun, terkadang telur akan menetas setelah 60 hari. Setelah menetas, tukik langsung mencari air yang sudah disediakan di dalam baskom tersebut. Berat tukik yang menetas berkisar 7—9,3 g/ekor. Tukik yang baru menetas belum membutuhkan pakan dari luar karena masih menyerap sari makanan dari yolk sack yang dibawanya sejak lahir.

Pendederan

Setelah hari kelima, tukik ditangkap untuk dipindahkan ke kolam pendederan. Luas kolam pendederan biasanya sekitar 50—600 m2, atau disesuaikan dengan lahan yang ada. Dasar kolam pendederan berpasir dengan ketinggian air sekitar 50—75 cm.

Kolam yang airnya terlalu dalam, akan menyulitkan labi-labi untuk mengambil oksigen langsung dari udara. Kepadatan kolam penebaran 45—50 ekor/m2. Lama pemeliharaan tukik di kolam tersebut selama dua bulan. Selama pemeliharaan, tukik diberi pakan berupa cincangan daging ikan. Pakan yang diberikan sebanyak 5% dari bobot labi-labi yang ditebar ke dalam kolam. Pakan tersebut ditempatkan di tepian kolam, tepatnya pada batas permukaan air kolam. Pemberian pakan dilakukan pagi dan sore hari.

Pembesaran

Luas kolam pembesaran bervariasi antara 50—600 m2, atau disesuaikan dengan lahan yang ada. Kolam yang terlalu besar akan sulit untuk dikontrol, sedangkan kolam yang terlalu kecil akan kurang efektif karena jumlah labi-labi muda yang ditebar hanya sedikit. Ketinggian air pada kolam pembesaran minimal 75 cm. Tukik yang ditebarkan ke dalam kolam pembesaran berumur dua bulan dan ukuran tebarnya harus seragam. Penebaran dilakukan pada pagi atau sore hari agar tukik tidak stres. Kepadatan penebaran, yaitu 8—10 ekor/m2. Untuk mencapai ukuran 300—600 g/ekor, seekor tukik membutuhkan waktu sekitar 3—6 bulan. Panen biasanya dilakukan setelah pemeliharaan selama 6—7 bulan dengan bobot 700—800 g/ekor. Untuk mencapai ukuran dewasa, tukik membutuhkan waktu 2—3 tahun.

 

Sumber: Buku 25 Budidaya Ikan di Pekarangan

loading...
loading...