Ekspor Karet Mulai Merangkak Naik

Pertanianku – Harga ekspor karet Standard Indonesian Rubber (SIR) 20 di pasar internasional terus bergerak naik dan sudah mencapai level USD1,6 per kilogram (kg). Setelah sebelumnya, harga karet anjlok sekian lama.

Ekspor Karet Mulai Merangkak Naik

Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Medan, Sumatera Utara, Edy Irwansyah. Kenaikan harga karet ini dipicu oleh turunnya produksi di tiga negara penghasil komoditas tersebut. Penurunan hasil produksi ini karena terjadinya musim penghujan yang merusak getah karet.

“Kita ketahui sekarang memasuki musim penghujan dan bukan hanya di Indonesia saja. Malaysia dan Thailand yang merupakan negara penghasil karet juga memasuki musim hujan. Jadi, ini menyebabkan produksi melemah. Namun, kondisi seperti ini membuat harga karet mengalami tren kenaikan,” jelas Edy, melansir dari Okezone (15/11).

Edy melanjutkan, selain karena memasuki musim penghujan, kenaikan harga karet ini juga dipicu menguatnya nilai tukar mata uang Yen terhadap dolar AS. Nilai tukar mata uang ini sangat berpengaruh terhadap harga ekspor karet.

Menguatnya harga di pasar internasional otomatis menaikkan harga bahan baku di dalam negeri.

“Jadi sekarang harga bahan olah karet (Bokar) di Sumut sudah mencapai sekitar Rp7.000 per kg. Harga naik sekitar Rp1.000 dari sebelumnya di level Rp6.000-an,” tutur Edy.

Menurut Edy, harga Bokar sebesar Rp7.000 tersebut diprediksi masih akan terus merangkak naik atau setidaknya bertahan dan tidak mengalami penurunan hingga akhir tahun.

Bahkan, Gapkindo Sumut optimistis harga karet ini bisa naik hingga 2017 mendatang. “Kami memprediksi harga ini masih akan terus bertahan tinggi karena diperkirakan permintaan semakin banyak untuk kebutuhan pabrikan di akhir 2016 dan awal 2017,” jelas Edy.

Edy mengungkapkan mulai bulan November hingga awal Desember pabrik getah melakukan peningkatan produksi. Strategi ini untuk menyiapkan stok barang di akhir tahun hingga awal tahun yang akan datang.

Pengusaha dan petani karet pun berharap agar harga karet ini terus naik atau setidaknya bertahan di level Rp7.000 tersebut. Sebab, harga yang anjlok selama ini telah menyiksa petani dan bisnis komoditas ini.

“Harga yang sekarang sudah membawa angin segar bagi petani karet kembali. Kami melihat harga karet beberapa tahun belakangan ini seperti tidak bergairah,” lanjut Edy.

Sementara itu, Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Ateng Hartono, mengatakan, devisa Sumut dari kelompok karet dan barang dari karet hingga triwulan III 2016 sudah turun 18,85% dibandingkan periode yang sama pada 2015 lalu. Pada triwulan III pada 2015 lalu, nilai ekspor karet dari Sumut masih mencapai USD893,4 juta dan hingga triwulan III tahun 2016 hanya sekitar USD725,01 juta.

“Penurunan devisa ini merupakan dampak dari menurunnya volume dan harga jual komoditas karet ini di pasar internasional,” tutup Edy.

loading...
loading...