Kelapa Sawit Menjadi Primadona, di Tengah Anjloknya Harga Karet dan Rotan


Pertanianku – Indonesia merupakan negara yang memiliki kebun sawit sangat besar. Ditambah lagi minat masyarakat membuka lahan untuk perkebunan kepala sawit kian tinggi di sejumlah daerah. Hal itu tidak terlepas dari anjloknya harga komoditas lainnya seperti rotan dan karet.

Kelapa Sawit Menjadi Primadona, di Tengah Anjloknya Harga Karet dan Rotan

“Masyarakat memang berubah dari yang dulu cukup berkebun karet, rotan karena anjloknya harga dan berkembangnya sawit, semua berubah ke sawit,” kata Bupati Kabupaten Seruyan Kalimantan Tengah Sudarsono di sela-sela acara pertemuan tahunan RSPO ke-14 di Bangkok, seperti yang dilansir dari Kompas.com (11/11).

Saat ini lahan perkebunan kelapa sawit di Seruyan mencapai 500.000 hektare, dimana lahan yang sudah menghasilkan seluas 300.000 hektare. Sudarsono mengatakan, perubahan pola seperti itu perlu diantisipasi pemerintah. Sebab, pembukaan lahan perkebunan kepala sawit bisa berdampak pada kawasan hutan.

Di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, misalnya pembukaan lahan baru juga menyasar kawasan hutan. Pada 5—10 tahun lalu, luasan kawasan hutan masih di atas 50% dari luasan lahan di Musi Banyuasin. Saat ini, kawasan hutan hanya tinggal 46% dari luas lahan di Musi Banyuasin.

“Bisa-bisa kalau tidak dengan benar kita memastikan bisa jadi warga atau aktivitas bisa berada di kawasan hutan. Ada persolan deportasi ke kawasan hutan, illegal land,” ucap Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Musi Banyuasin Beni Hernedi.

CEO Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) Darrel Webber mengimbau agar pemerintah membuka dialog dengan semua stakeholder di industri kelapa sawit termasuk RSPO. Membuka forum diskusi dinilai sangat penting, untuk mencari solusi bersama atas permasalahan lahan tersebut.

Baca Juga:  Komoditas Kedelai Diprediksi Swasembada Tahun Depan
loading...
loading...