Lahan Tanaman Cabai di Kalsel Terendam Banjir


Pertanianku – Ribuan pohon cabai di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan (Kalsel), terendam banjir akibat hujan yang terus-menerus dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini membuat para petani memanen cabainya lebih cepat kendati buah masih berwarna hijau.

Seorang petani cabai rawit Hiyung atau cabai khas Desa Hiyung, Sungai Rutas, Kabupaten Tapin, Salmani mengungkapkan bahwa, volume hujan yang turun sangatlah banyak, membuat sebagian besar pohon cabai petani di desanya, rusak dan mati. Untuk menghindari kerugian yang lebih besar, kata dia, terpaksa petani cabai memanen lebih awal cabai-cabainya.

“Terpaksa dipetik walau masih hijau, daripada menunggu merah tapi malah busuk,” tuturnya, seperti dikutip Republika (18/1/2017).

Kondisi tersebut, membuat harga cabai Hiyung di Kabupaten Tapin dengan kualitas bagus, kembali meroket, dari sebelumnya Rp110.000 per kilogram (kg), kini menjadi Rp150.000 per kg.

Salah seroang pedagang di pasar tradisional Keraton Rantau, Marni mengatakan, kendati cabai Hiyung kini harganya tembus Rp150.000 per kg, tetapi masih banyak yang memburu, permintaan terhadap cabai yang dinobatkan sebagai cabai terpedas di Indonesia tersebut, tetap banyak. Bahkan, untuk cabai Hiyung dengan kualitas kurang bagus, atau masih banyak yang warna hijau dan sebagian mulai membusuk, masih laku dijual dengan harga Rp120.000 per kg.

“Pembelinya masih banyak aja, tapi penjualnya yang berkurang, karena cabai memang sulit didapat dari petani,” terang wanita asal desa Gadung Rantau tersebut.

Pembeli cabai masih didominasi oleh ibu-ibu rumah tangga dan pedagang sayur keliling. Namun, untuk pedagang makanan lebih memilih membeli cabai rawit dengan kualitas nomer dua atau yang kurang bagus.

“Kalau ibu rumah tangga paling beli yang sudah saya bungkus kecil-kecil dengan harga Rp5.000 per bungkus,” ucapnya.

Baca Juga:  Ini Penyebab Ribuan Hektare Lahan Tebu Terbangkalai
loading...
loading...