Melihat Seberapa Besar Potensi Mutiara

Pertanianku – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengingatkan potensi komoditas mutiara yang ada di Indonesia. Pasalnya hal ini akan dapat meningkatkan perekonomian bangsa jika diberdayakan dengan tepat. “Besarnya potensi tersebut, tidak semua tercatat dalam pendapatan negara,” kata Susi Pudjiastuti dalam rilis KKP di Jakarta, beberapa hari lalu seperti dilansir Republika (31/10).

Melihat Seberapa Besar Potensi Mutiara

Menteri Susi mengungkapkan bahwa, mutiara menjadi sasaran empuk praktik ekspor ilegal. Pada 2014, data impor mutiara Hongkong dari Indonesia senilai 49,8 juta dolar AS. Hal itu, berbeda jauh dengan catatan ekspor Indonesia ke negara tersebut.

Sedangkan pada 2015, Hongkong mengimpor mutiara dari Indonesia senilai 34,2 juta dolar AS. Namun, data ekspor Indonesia ke negara tersebut, mencatat hanya sebesar 1 juta dolar AS saja. “Bisa dilihat betapa jauhnya angka penerimaan Hongkong yang mereka catat, dengan ekspor kita. Ini baru satu negara, saya belum dapat negara lain,” tutur Menteri Susi.

Menteri Susi mengatakan jika sepanjang dua tahun ini, kinerja KKP memang masih fokus melakukan pemberantasan penangkapan ikan secara ilegal. Untuk itu ke depan, Susi berkomitmen agar pendapatan pajak serta pengelolaan perusahaan terutama sektor mutiara akan dikawal dengan lebih baik.

Sebelumnya, Menteri Susi mengimbau masyarakat agar dapat membeli mutiara asli Indonesia yang keindahannya sudah terkenal sampai ke luar negeri dan terkenal dibanding produk lain seperti mutiara air tawar dari Cina. “Beli mutiara Indonesia. Katanya mutiara Indonesia salah satu yang terbaik di dunia,” ucapnya

Untuk itu, Susi mengimbau dibutuhkan kolaborasi antar para pengusaha dengan pihak pemangku kepentingan terkait. Selain kerja sama, Susi juga ingin pola pikir pengusaha mutiara harus diubah agar kerja sama antara berbagai pihak dapat berjalan lebih baik. Salah satu mutiara asli Indonesia yang terkenal sampai ke mancanegara yaitu mutiara Lombok, sehingga jangan sampai komoditas asli Nusantara itu kalah bersaing.

loading...
loading...