Menanam Paprika dengan Metode Hidroponik, Kenapa Tidak?

Pertanianku – Paprika merupakan tanaman sejenis cabai yang banyak digunakan sebagai bumbu pada masakan. Bahkan, saat ini permintaan paprika semakin tinggi. Namun, belum diimbangi oleh produksi paprika itu sendiri. Untuk itulah, saat ini berbagai macam metode untuk menanam paprika marak diterapkan. Salah satunya adalah menanam paprika dengan metode hidroponik.

Paprika sulit dibudidayakan secara konvensional di tanah karena teknik pelaksanaannya tidak mudah. Misalnya, bedengan perlu disterilkan dengan memasukkan uap air ke dalam bedengan selama delapan jam dengan suhu 75°C. Budidaya secara hidroponik merupakan cara yang bisa dilaksanakan untuk mengatasi kendala budidaya secara konvensional. Naungan (greenhouse) mutlak diperlukan untuk penanaman paprika di musim hujan.

Tanaman paprika merupakan jenis cabai yang lebih sulit dibudidayakan dibanding cabai rawit, cabai merah, cabai keriting, dan cabai-cabai hias yang lain sehingga penanaman paprika banyak menerapkan sistem hidroponik. Dengan perawatan intensif, satu tanaman paprika pada sistem hidroponik dapat menghasilkan 2,5 kg buah/tanaman, sedangkan jika ditanam di tanah hanya menghasilkan 1 kg buah/tanaman.

Konsentrasi nutrisi sangat menentukan berhasil atau tidaknya budidaya paprika secara hidroponik. Petani hidroponik di Belanda selalu mengubah konsentrasi nutrisi secara teratur yang disesuaikan dengan varietas tanaman dan lingkungan setempat. Panduan pemupukan hidroponik hanya sebagai patokan dasar.

Berikut tata cara penanaman paprika dengan metode hidroponik.

  1. Persiapan media persemaian

Media semai terdiri atas campuran pasir, sekam bakar, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1 : 1.

  1. Fumigasi greenhouse

Kegiatan fumigasi dilakukan satu minggu sebelum bibit ditanam, setelah polybag diletakkan di dalam greenhouse. Fumigasi (dari bahasa Inggris, fume, yang berarti uap/asap) adalah sebuah metode pengendalian hama menggunakan pestisida. Dalam proses ini, sebuah area akan secara menyeluruh dipenuhi oleh gas atau asap, membunuh semua hama di dalamnya. Metode ini dapat membunuh hama yang hidup di dalam struktur bangunan, misalnya rayap.

  1. Persemaian

Benih direndam selama 20—24 jam, kemudian benih dikecambahkan. Sebelum benih disemai, media di dalam pot disiram dengan air hingga basah dan dibuat lubang di tengahnya sedalam 4 cm.

  1. Penanaman dan pemasangan tiang

Media arang sekam disiram sampai basah dengan nutrien sebanyak 2 liter. Kemudian bagian tengah media dilubangi sebesar ukuran polybag bibit yang akan ditanam. Bibit siap ditanam. Dripper ditancapkan ke dekat batang tanaman. Pemasangan tiang standar dilakukan pada setiap tanaman sampel.

  1. Pembuatan sistem irigasi

Pemberian larutan nutrisi ke tanaman menggunakan sistem irigasi tetes (Drip Irigation System). Caranya, selang utama diberi beberapa lubang kecil berjarak 35 cm lalu diberi pentil pada setiap lubang untuk tempat sambungan selang cabang. Setelah itu, selang utama disambungkan ke klep (valve) yang terpasang pada sisi bawah ember, sedangkan ujung lainnya disumbat. Ember diletakkan di atas meja atau rak khusus yang tingginya 1 meter dari lantai, kemudian selang diletakkan pada posisi datar dengan menggunakan kayu. Selang kecil dipasang pada pentil pipa dan ujung selang dipasang dripper modifikasi.

  1. Penyiraman

Penyiraman dilakukan setiap hari, yaitu pagi atau sore.

loading...
loading...