Menikmati Keuntungan Berbisnis Budidaya Lada Bongsor


Pertanianku – Fuadi, petani lada asal Desa Juli Menasah Tambo, Kabupaten Bireuen, Aceh membudidayakan tanaman lada rambat jenis bongsor yang telah langka. Fuadi tertarik untuk membudidayakan lada bongsor karena dirasa lebih praktis jika dibandingkan dengan jenis lada lainnya.

menikmati-keuntungan-berbisnis-budidaya-lada-bongsor

Karakteristik lada bongsor adalah memiliki biji lebih besar dibanding lada pada umumnya. Untuk mulai menanamnya, Fuadi mengatakan bahwa tanaman bibit lada yang ditanam ini sudah berumur sekitar dua tahun yang merupakan penanaman perdana yang dibudidayakan olehnya. Lada yang dibudidayakan di kawasan ini adalah lada rambat jenis bongsor yang memiliki biji lebih besar dibanding lada biasa.

Menurut Fuadi, lada bongsor tersebut lebih praktis dibanding lada biasa, baik dalam proses panen maupun proses perawatannya. Dalam satu kilogram lada bongsor ini hanya empat ratus karangan saja, jika lada biasa bisa mencapai enam ratus karangan dalam satu kilogram.

Jarak penanaman lada rambat harus diberi jarak antara 2 meter kali 2,5 meter, dengan masa panen mulai dari umur 8 bulan sampai 2 tahun hingga 2,5 tahun setelah masa tanam.

Bibit lada rambat jenis bongsor didapatkan Fuadi dari Lampung dengan harga per bibit Rp15.000. Dalam 1 hektare lahan menghabiskan bibit sebanyak 2.000 bibit. Jika lahan 3,5 hektare, membutuhkan bibit lada sebanyak 7.000 bibit.

Selain menanam bibit lada, Fuadi juga membuat pembibitan di lahan miliknya sehingga ia bisa memperoleh keuntungan dua kali lipat. Ia menjelaskan bahwa selama ini petani lada dari Aceh utara dan Pidi mengambil bibit lada dari dirinya.

Dengan kisaran harga mulai dari Rp15.000 per bibit yang berumur 3 bulan—Rp20.000 per bibit untuk lada umur 5 bulan, dalam satu bulan ia bisa menjual bibit lada sebanyak 1.500 polybag dan itu tergantung dari permintaan petani.

Baca Juga:  Luar Biasa! Ekspor Kopi Indonesia ke Korsel Meningkat Hingga 53 Persen
loading...
loading...