Miris! Jumlah Peternak RI Makin Sedikit

Pertanianku – Kondisi peternakan rakyat saat ini sangat memprihatinkan, khususnya peternakan unggas. Pasalnya, menurut data saat ini jumlah peternak unggas turun drastis. Hal ini karena banyak peternak yang terus merugi yang berimbas pada usahanya yang harus gulung tikar.

miris-jumlah-peternak-ri-kian-memprihatinkan

Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Sugeng Wahyudi mengatakan masuknya perusahaan peternakan ayam integrator bermodal besar membuat peternak rakyat sulit bersaing dan akhirnya kolaps.

Pihaknya mengatakan bahwa perusahaan peternakan integrator merujuk pada perusahaan besar yang menguasai industri perunggasan dari hulu sampai hilir seperti DOC (Day Old Chick), pakan, vaksin, peternakan budidaya, pemotongan, sampai olahan.

“Aturan sekarang nggak lindungi peternak rakyat. Akhirnya jumlah peternak tergerus terus karena kalah saing pasti. Bayangkan, tahun 2000 peternak rakyat kita masih sekitar 2,5 juta orang. Sekarang berkurang secara sistemik jadi hanya 170.000 orang,” ujar Sugeng, sebagaimana dilansir dari detik.com (29/11).

“Dulu ayam broiler 80% dikuasai peternak rakyat, 20% oleh integrator. Sekarang 80% lebih oleh integrator, karena integrator masuk ke budidaya yang sebelumnya terlarang,” lanjutnya.

Diizinkannya perusahaan integrator masuk ke budidaya unggas setelah pemerintah mencabut UU Nomor 6 Tahun 1967, yang digantikan dengan UU Nomor 18 Tahun 2009 pada saat era Menteri Pertanian Suswono.

Menurutnya, dari produksi ayam broiler per minggu sebesar 60 juta ekor, hanya 10 juta saja yang dipenuhi oleh peternak rakyat. Padahal, seharusnya usaha budidaya diperuntukkan untuk peternak kecil lantaran integrator sudah mengambil untung cukup banyak dari penjualan DOC, pakan, sampai sapronak (sarana produksi peternakan).

“Harusnya peternak kecil ini dilindungi, silakan integrator budidaya tapi untuk kebutuhan ekspor. Atau ada segmentasi pasar, pasar becek jangan dimasuki integrator, kalau pasar bersih silakan untuk integrator,” tutur Sugeng.

loading...
loading...