Miris Petani Kecil Tak dapat Nikmati Tingginya Harga Garam


Pertanianku – Akibat fenomena La Nina yang terjadi sepanjang musim kemarau tahun ini menyebabkan stok garam petani di Kabupaten Indramayu habis dan tak bisa menikmati tingginya harga garam. Pasalnya para petani garam di daerah tersebut.

Miris Petani Kecil Tak dapat Nikmati Tingginya Harga Garam

Saat ini, harga garam dibanderol sekitar Rp1.000 per kg. Harga itu jauh di atas harga yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp750 per kg untuk garam kualitas satu dan Rp550 per kg untuk garam kualitas dua.

‘’Stok garam petani sudah habis,’’ jelas salah seorang petani garam asal Kecamatan Losarang,  Kabupaten Indramayu, Sunarji, seperti dikutip Republika (26/10).

Fenomena La Nina yang terjadi sepanjang musim kemarau tahun ini membuat proses pengolahan tambak garam yang dilakukan petani menjadi gagal panen. Akibatnya, produksi garam petani menjadi hancur.

Para petani garam di Kecamatan Losarang sempat melakukan panen perdana garam saat kondisi cuaca sedang membaik. Namun, panen itu tak bisa lagi dilakukan karena hujan kembali mengguyur dan menghancurkan pengolahan tambak garam mereka.

Sunarji menyatakan, rata-rata stok garam yang dimiliki petani hanya sekitar sepuluh persen. Garam itupun sudah dijual kepada tengkulak saat harganya masih di kisaran Rp500—Rp600 per kg.

Ketua kelompok usaha garam rakyat “Baujan Krangkeng”, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, Shobirin Sadi mengatakan, petani sebenarnya berusaha untuk mempertahankan harga jual garam dengan cara menyimpannya di gudang. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena mereka terdesak kebutuhan hidup sehari-hari. ‘’Jadi petani sekarang sudah tidak memiliki stok garam lagi,’’ lanjut Shobirin.

Ketua Asosiasi Petani Garam Indramayu, Juendi mengungkapkan, petani garam selama ini memang terkendala faktor permodalan. Akibatnya, mereka tidak bisa menyimpan stok garam dalam jumlah besar karena terdesak kebutuhan.

Baca Juga:  Walhi Aksi Tolak Pembangunan Pembangkit Listrik Batu Bara di COP-23

‘’Harusnya petani bisa menyimpan stok garam saat panen untuk dijual di saat harga sedang tinggi,’’ tutur Juendi.

Di Kabupaten Indramayu, areal tambak garam tersebar di tiga kecamatan. Yakni Kecamatan Losarang seluas 923 hektare, Kandanghaur 190 hektare, dan Krangkeng 600 hektare. Setiap satu hektare lahan garam rata-rata dikelola oleh tiga orang petani garam. Masa produksi garam biasanya berlangsung selama 90 hari, mulai Agustus hingga Oktober. Namun, tahun ini produksi garam terkendala hujan yang terus turun akibat fenomena La Nina.

 

loading...
loading...