Nilai Ekonomis Kopi Merapi Sangat Fantastis!

Pertanianku – Bermula dari kepeduliannya terhadap nasib para petani, seorang petani asal Kabupaten Sleman, Yogyakarta, bernama Kini Sumijo berhasil mengembangkan produk murni kopi merapi. Awalnya, pria berusia 40 tahun ini hanya meneruskan usaha yang telah dirintis oleh keluarganya sejak dulu yang berprofesi sebagai petani kopi di kawasan lereng Gunung Merapi, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Lambat laun, Sumijo merasa ada yang tidak adil dalam transaksi penjualan biji kopi. “Petani memanen kopi butuh waktu bertahun-tahun. Tapi ketika dijual harganya hanya Rp1.000 per kg. Itu kan tidak adil,” kata Sumijo, seperti dilansir Republika belum lama ini (9/1/2017).

Menyadari kondisi tersebut, pada 2004, Sumijo pun menginisiasi pembentukan Kelompok Usaha Bersama (KUB) petani kopi yang berasal dari tiga kecamatan di kawasang lereng Merapi antara lain Pakem, Cangkringan, dan Turi. Seluruhnya terdiri atas 18 kelompok. Tiap kelompok beranggotakan 30—60 orang petani kopi.

Menurutnya hal tersebut sengaja dilakukan agar hasil panen kopi tidak disalurkan terlebih dulu ke tengkulak. Selain itu, melalui KUB, para petani bisa memiliki daya tawar harga yang lebih kuat. Ini karena satuan harga biji kopi yang dijual disamakan.

Berkat siasat dagang tersebut, harga biji kopi merapi sekarang mulai stabil menjadi Rp5.000 hingga Rp6.000 per kg. Tak hanya sampai di situ, guna meningkatkan nilai ekonomis, Sumijo lalu berinisiatif membuat racikan murni kopi merapi. Mulanya berbagai resep kopi ia coba. Setelah berbulan-bulan, barulah ia memutuskan membuat racikan kopi merapi murni tanpa campuran apa pun. “Akhirnya pilih yang murni saja. Karena saya tidak mau ada pengawet dan tambahan bahan lain pada kopi,” ungkapnya.

Dari usahanya itu, terciptalah kopi serbuk dengan karakter yang khas, lembut, dan tidak menyisakan banyak ampas. Selain menjual biji kopi, melalui KUB-nya, Sumijo pun menjual kopi serbuk dalam satuan kilo ataupun sachet, baik untuk diminum maupun kebutuhan kecantikan. Didukung oleh pendampingan dan bantuan fasilitas dari Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan (DPPK) Sleman, pada 2006 akhirnya produk Kopi Merapi memperoleh sertifikat standar nasional Indonesia (SNI).

Secara berturut-turut produk para petani ini mampu menyabet SNI Award dari Presiden pada 2007 dan 2008. Saat ini, Kopi Merapi sudah didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia seperti Jakarta, Semarang, Denpasar, dan sebagainya. Kebanyakan pelanggan kopi dalam partai besar berupa kedai, restoran, dan hotel.

Sementara bagi penggemar kopi yang ingin menikmati sensasi luar biasa, dapat langsung berkunjung ke warung kopi milik Sumijo yang berada di Desa Petung, Kecamatan Cangkringan. Di sana para pengunjung warung bisa meminum kopi sambil memandangi panorama Gunung Merapi yang dapat terlihat jelas, terutama di pagi dan sore hari. Harga secangkir kopi arabika di warung milik Sumijo dipatok Rp7.000.

Adapun robusta dijual Rp5.000. Untuk kopi serbuk arabika, dijual dengan harga Rp50.000 per sachet berisi 250 gram, dan Rp200.000 per kg. Sementara itu, robusta hanya Rp25.000 per sachet berisi 250 gram, dan dijual perkilo antara Rp60.000—Rp160.000, tergantung kelasnya.

loading...
loading...