Panduan Lengkap Budidaya Terong Skala Industri

0

Pertanianku – Terong (Solanum melongena) merupakan satu dari sekian banyak jenis sayuran yang banyak dimanfaatkan untuk dikonsumsi. Bagi masyarakat Indonesia, sayuran ini cukup populer. Selain sehat jika dikonsumsi, terong juga memiliki nilai ekonomis cukup tinggi dan harganya pun cukup terjangkau.

Panduan Lengkap Budidaya Terong Skala Industri

Tanaman ini mempunyai pohon yang mirip dengan pohon tanaman perdu dengan daun lebar dan batang yang sedikit keras berkayu. Rata-rata terong mempunyai tinggi sekitar 60—240 cm. Tanaman sayur satu ini memiliki batang yang sedikit berair, sedikit berbulu, dan ada beberapa jenis terong yang batangnya memiliki duri.

Terong banyak mengandung protein dan serat sehingga sangat cocok untuk menu lauk pauk saat makan. Menu yang sering dibuat dari terong adalah sayur lodeh, sambal terong, terong balado, terong goreng krispi, dan masih banyak lainnya.

Pada dasarnya tanaman terong sangat baik dibudidayakan di lahan dengan pH 5—6 dan kondisi tanah berpasir. Akan tetapi, terong tetap bisa dibudidayakan di berbagai jenis lahan, baik di dataran tinggi maupun di dataran rendah. Tanaman terong yang sering dibudidayakan adalah terong kopek, terong craigi, terong bogor/terong kelapa, terong gelatik, dan terong acar. Bagaimana, tertarikkah Anda menjalankan usaha budidaya terong. Jika Anda tertarik, berikut panduan lengkap budidaya terong skala industri.

Pembenihan dan persemaian

Tahap awal pada budidaya terong adalah menyiapkan dan menyeleksi benih berkualitas untuk ditanam. Benih terong bisa didapatkan dengan cara memilih buah terong yang besar dengan kulit buah yang mulus. Setelah mendapatkannya, diamkan buah pada batangnya sampai kulit buah menguning minimal 75%, kemudian potong tangkai dengan pisau tajam. Jemur buah terong di bawah terik matahari sampai cokelat.

Pisahkan biji dari buah, kemudian jemur biji hingga kering. Sementara itu, untuk persemaian, benih yang sudah siap direndam dalam air hangat selama 1 jam. Buang benih yang mengambang dan tiriskan benih yang tenggelam sebagai benih yang akan ditanam.

Selanjutnya, benih yang sudah siap bisa disebar secara merata pada media persemaian dari campuran tanah dan pupuk kandang/kompos dengan perbandingan 1:1. Tutup persemaian dengan daun pisang selama 2—3 hari dan letakkan di tempat teduh. Setelah 7—8 hari semai, bibit dipindahkan ke polybag agar mudah pemeliharaannya. Lakukan penyiraman setiap hari di saat pagi dan sore hari. Setelah berusia 4—5 minggu (mempunyai 4—5 daun), bibit siap ditanam di lahan luas.

Pengolahan tanah

Pada budidaya terong pengolahan tanah harus dilakukan. Untuk melakukannya, tanah yang akan diolah sebelumnya ditaburi dengan pupuk kompos 1—2 minggu sebelum dicangkul/dibajak. Setelah itu, lahan dibuat bedengan dengan lebar 120—140 cm dan panjang sesuai luas lahan yang tersedia. Buat parit sebagai drainase dengan kedalaman 20—30 cm dan lebarnya 60—80 cm. Selanjutnya, buat lubang tanam per bedeng sebanyak dua larik dengan kedalaman 20—25 cm. Masukkan pupuk kompos sebanyak 0,5—1 kg per lubang.

Penanaman dan pemeliharaan

Pada budidaya terong, penanaman dapat dilakukan dengan jarak tanam dalam barisan 50—70 cm dengan jarak antarbarisan 80—90 cm, tiap bedengan terdapat dua baris. Lakukan penyiraman secara rutin pagi dan sore hari. Pemupukan bisa diberikan setelah usia tanaman menginjak 1—2 minggu setelah tanam.

Pemupukan dilakukan dengan memberikan urea dengan dosis 30 kg/hektare dicampur dengan ZA dan ZK (1:1) dengan dosis 10 g/tanaman dengan jarak pemberian pupuk 5 cm dari pangkal batang. Selanjutnya, setelah 2,5—3 bulan, bisa dilakukan pemupukan lagi. Lakukan penyiangan gulma secara berkala selama masa tanam. Lakukan penyiraman rutin dengan disesuaikan kondisi cuaca pada saat tanam. Bila diperlukan dapat dilakukan perompesan pada batang agar buah dapat tumbuh optimal. Setelah tanaman mulai berbuah, lakukan pemberian ajir untuk menopang tanaman. Selanjutnya, lakukan pengendalian hama dan penyakit dengan menggunakan pestisida dengan dosis yang tepat.

Pemanenan

Terong dapat dipanen untuk pertama kalinya saat berusia 4 bulan setelah masa tanam. Dan seterusnya dapat dipanen tiap seminggu sekali. Rata-rata dalam 1 hektare lahan bisa menghasilkan 10—30 ton terong.

loading...
loading...