Panduan Praktis Budidaya Kerang Abalone


Pertanianku – Abalone merupakan sejenis kerang yang masih jarang diketahui masyarakat. Kerang abalone memiliki nilai gizi yang cukup tinggi. Kandungan gizi kerang abalone antara lain protein sebanyak 71,99%, lemak 3,20%, serat 5,60%, dan abu 11,11%. Tidak hanya dagingnya yang dapat dikonsumsi, tetapi cangkang kerang abalone juga bisa dijadikan perhiasan.

Panduan Praktis Budidaya Kerang Abalone

Tidak semua pantai berkarang terdapat kerang abalone. Secara umum, kerang abalone tidak ditemukan di daerah estuaria, yaitu pertemuan air laut dan tawar yang biasa terjadi di muara sungai. Ini mungkin disebabkan oleh beberapa faktor antara lain adanya air tawar sehingga fluktuasi salinitas sering terjadi, tingkat kekeruhan air yang lebih tinggi, dan kemungkinan juga konsentrasi oksigen yang rendah.

Nilai ekonomi kerang abalone cukup tinggi. Harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Oleh karena itu, berbagai cara digunakan untuk membudidayakan kerang jenis ini. Salah satu yang sudah terbukti adalah metode KJA (keramba jaring apung). Keramba jaring apung dapat terbuat dari kayu atau bambu yang dilengkapi jangkar dari besi atau beton.

Sebelum memulai budidaya kerang abalone, terdapat beberapa alat yang perlu disiapkan. Berikut alat-alat dimaksud.

  • Wadah pemeliharaan yang terbuat dari waring.
  • Alat transportasi seperti perahu atau sampan.
  • Alat kerja berupa timbangan, palu, dan gergaji.
  • Rumah jaga dipergunakan untuk kegiatan pengamanan.

Berikut tahapan budidaya kerang abalone dengan metode KJA.

Pemilihan lokasi

Pemilihan lokasi budidaya kerang abalone dengan metode KJA, sama dengan pemilihan lokasi pada budidaya ikan kerapu bebek dengan sistem KJA. Oleh karena itu, budidaya kerang abalone dapat dilakukan secara bersama dengan ikan kerapu bebek dalam jaring yang berbeda ataupun terpisah.

Persyaratan lokasi:

  1. Gelombang dan arus

Gelombang yang besar akan mengakibatkan goncangan rakit yang cukup kuat. Hal ini akan menyebabkan rusaknya konstruksi rakit dan kesulitan dalam bekerja. Selain itu, kekuatan arus juga sangat menentukan. Arus erat kaitannya dengan sirkulasi air dalam wadah pemeliharaan/jaring. Arus yang kuat akan dapat mengakibatkan terlilitnya wadah/jaring.

Baca Juga:  Mendag Kritik Masyarakat Indonesia yang Konsumsi Ikan Olahan Impor

Bukan daerah up-welling

Lokasi budidaya kerang abalone harus terhindar dari proses perputaran air dasar ke permukaan (up-welling). Pada daerah yang sering terjadi up-welling sangat membahayakan kehidupan organisme yang dipelihara, dimana air bawah dengan kandungan oksigen yang sangat rendah serta gas-gas beracun akan naik ke permukaan yang dapat menimbulkan kematian secara masal. Lokasi seperti ini sebaiknya dihindari.

Pencemaran

Kerang abalone merupakan hewan yang bergerak sangat lambat sehingga jika terjadi pencemaran, baik pencemaran industri, tambak maupun dari limbah masyarakat setempat, akan sulit untuk menghindar. Akibatnya, kerang abalone akan mengalami kematian secara masal.

Kedalaman perairan

Kedalaman perairan sangat berpengaruh terhadap kualitas air pada lokasi tersebut. Lokasi yang dangkal akan lebih mudah terjadinya pengadukan dasar akibat dari pengaruh gelombang yang pada akhirnya menimbulkan kekeruhan. Sebagai dasar patokan pada saat surut terendah sebaiknya kedalaman perairan lebih dari 3m dari dasar waring/jaring.

Kualitas air

Faktor kualitas air bukan merupakan suatu kendala jika daerah tersebut merupakan daerah budidaya ikan kerapu. Lain halnya pada lokasi baru, perlu dilakukan suatu pendekatan dengan cara pengukuran parameter kualitas air serta tindakan uji coba yang bersifat sederhana. Jika tidak memiliki alat pengukur kualitas air, pelihara beberapa ekor kerang abalone pada daerah tersebut, minimal sekitar 2—4 minggu. Parameter yang diamati adalah kerang abalone dapat bertahan hidup dan mampu memakan pakan yang diberikan. Ini yang akan dijadikan sebagai tolak ukur bahwa lokasi tersebut telah mampu mendukung budidaya kerang abalone.

  1. Desain dan konstruksi KJA

Metode KJA lebih identik pada lokasi perairan dalam yang terlindungi, dalam arti bukan laut lepas dan jalur pelayaran. Desain dan konstruksi KJA pada umumnya sama, tetapi sering kali dibuat ukuran yang berbeda. Hal ini tentu tergantug pada kemampuan membuatnya.

Baca Juga:  Mendag Kritik Masyarakat Indonesia yang Konsumsi Ikan Olahan Impor

Bahan-bahan untuk rangka rakit serta pelampung yang dipergunakan juga berbeda-beda. Namun, pada prinsipnya sama, yaitu untuk memelihara biota hingga dapat memperoleh hasil yang memadai. Bahan rangka rakit bisa menggunakan bambu ataupun kayu. Hal yang terpenting dalam memilih bahan konstruksi rakit adalah kekuatan, daya tahan terhadap air (tidak mudah lapuk), dan harga beli yang terjangkau.

Begitu pula dengan penggunaan pelampung seperti drum besi yang dicat antikarat, drum plastik ataupun dari bahan sterofoam yang terbungkus, tetapi pada prinsipnya hanya untuk mengapungkan keramba. Dalam memilih dan menentukan jumlah pelampung harus memperhitungkan daya apung atau kemanpuan menahan beban dan berat beban yang dibawa sehingga tidak mudah tenggelam.

loading...
loading...