Pedagang Makanan di Denpasar Gelisah Akibat Cabai Mahal


Pertanianku – Imbas dari kenaikan harga cabai kini dirasa pedagang. Salah satunya adalah pedagang makanan di Denpasar, Bali. Akibat haga cabai yang bergejolak, tentu membuat gelisah para pedagang makanan. Contohnya adalah pedagang lontong pecel Desak, mengaku kebingungan melayani pembeli yang memesan lontong pecel dengan rasa pedas.

“Pedas itu kan relatif. Ada yang hanya diberi satu biji cabai sudah cukup, namun ada yang tiga biji masih kurang,” kata Desak, pedagang lontong pecel di Jalan Tanimbar Depasar, seperti diberitakan Republika (12/1/2017).

Desak mengatakan, tingginya harga cabai memang membuat dirinya kesulitan. Beruntung, pelanggannya banyak yang sudah memahami mahalnya harga cabai sehingga tidak terlalu menuntut untuk urusan cabai.

“Mereka menyadari sendiri, walau hanya dengan sebiji cabai, mereka bisa menerimanya, untuk harga makanan yang hanya Rp7.500 sebungkus,” lanjutnya.

Pedagang empal gentong di kawasan Renon Denpasar, Sumarno, mengatakan walau harga cabai meroket, dirinya tetap menyediakan cabai untuk makanan berkuah yang menjadi ciri khas Cirebon itu. Dikatakannya, jika makan empal gentong tanpa sambal memang kurang lezat. “Makanya saya tetap menyediakan sambal dan membebaskan pelanggan untuk mengambil sendiri berapa banyak mereka mau,” ungkap Sumarno.

Hanya saja Sumarno mengeluhkan. Dengan harga cabai yang mencapai Rp100.000 per kg, cabai yang dijual rasanya tidak terlalu pedas. Karena itu sebut Sumarno, pelanggannya kerap mengambil sambal lebih banyak dari takaran normal.

“Sebelumnya kan sambalnya sedikit rasanya sudah pedas. Tapi sekarang lain, sambalnya banyak tapi tidak pedas,” lanjutnya.

Menurut Sumarno, sebelumnya harga cabai tidak semahal sekarang dan rasa cabainya juga lumayan pedas.

Baca Juga:  Ratusan Hektare Persawahan Diserang Hama, Petani Alami Kerugian
loading...
loading...