Raup Omzet Puluhan Juta dari Bisnis Budidaya Belut

0

Pertanianku – Belut merupakan salah satu komoditas perikanan yang cukup diperhitungkan. Pasalnya, permintaan belut semakin tinggi. Terlebih, mengonsumsinya memiliki segudang manfaat. Belut juga memiliki cita rasa yang sangat gurih dan lezat. Belut boleh dibilang aman dikonsumsi oleh siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Daging belut juga dipercaya dapat menambah vitalitas tubuh manusia.

raup-omzet-puluhan-juta-dari-bisnis-budidaya-belut

Selain di rawa-rawa, hewan air ini banyak ditemukan di sawah dan sungai. Oleh karena peminatnya cukup banyak, pasokan belut tidak cukup mengandalkan dari tangkapan alam.

Banyak orang tertarik untuk membudidayakan belut. Salah satu varian belut yang mulai banyak dibudidayakan adalah jenis belut super. Berbeda dengan belut pada umumnya, belut super memiliki ukuran lebih besar. Ukuran lingkar tubuhnya mencapai 6,5 cm dengan panjang sekitar 50 cm.

Belut juga memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Banyak pembudidaya belut sukses dengan bisnis yang digelutinya. Salah satu pembudidaya yang cukup sukses adalah Herman Susilo.

Herman Susilo, pembudidaya belut super asal Malang, Jawa Timur, menyatakan, bobot tiga ekor belut super bisa mencapai 1 kg. Belut ukuran jumbo ini banyak dicari pengusaha restoran dan makanan ringan.

“Kalau tidak budidaya, susah dapat belut super ini, padahal, pasarnya lebih menjanjikan,” kata Herman, sebagamana dilansir dari Kompas (14/11).

Saat ini, Herman memiliki lima kolam lumpur tempat budidaya belut super. Setiap kolam berukuran sekitar 2 × 5 meter. Dengan pemberian pakan rutin, Herman bisa memanen belut setiap tiga atau empat bulan sekali. Jadi, dalam setahun bisa empat kali panen.

Saat panen, setiap kolam bisa menghasilkan 250 kg belut super. Harga setiap kilonya sekitar Rp30.000—Rp35.000. Dengan harga tersebut, omzet yang didapatnya sekitar Rp40 juta—Rp50 juta setiap kali panen. Adapun laba bersihnya sekitar 50% dari omzet.

Biaya produksi yang dikeluarkan lebih banyak untuk pembibitan. Setiap satu kg bibit belut super ini dijual seharga Rp40.000.

“Sementara pakannya lebih banyak pakan alami, seperti kodok dan cacing,” kata Herman.

Herman menghindari pemberian pelet karena justru dapat menghambat pertumbuhan belut. Selain budidaya belut hingga siap jual, belakangan ia juga mulai melayani penjualan bibit belut super.

Pembudidaya belut yang sukses lainnya adalah Prabowo dari Yogyakarta. Ia membudidayakan belut super sejak 2010. Saat ini, ia fokus menjual bibit belut super seukuran 15—20 cm.

“Karena kalau bibit setiap bulan bisa langsung jual, sementara kalau tunggu besar itu sampai tiga bulan,” ujar Prabowo.

Bekerja sama dengan petani, ia membudidayakan belut ini di pinggiran sawah. Omzetnya dalam sebulan mencapai Rp8 juta. Karena bekerja sama dengan pemilik sawah, laba yang didapatnya hanya 20%—30%. “Jadi saya berbagi dengan pemilik sawah,” lanjut Prabowo.

Budidaya belut super belakangan semakin digandrungi. Maklum, selain tingginya permintaan pasar, budidaya belut ini juga tidak sulit. Herman Susilo, pembudidaya belut super dari Malang, Jawa Timur bilang, hal utama yang mesti diperhatikan adalah pemberian pakan.

Menurutnya, asupan pakan akan sangat memengaruhi pertumbuhan belut. Ia menyarankan, sebaiknya belut super lebih banyak diberikan pakan alami seperti keong, katak, atau cacing ketimbang pakan buatan. “Pakan alami membantu pertumbuhan lebih cepat,” kata Herman.

Dengan pakan alami, belut super bisa lebih cepat dipanen karena pertumbuhannya juga menjadi lebih cepat. Jika diberi pakan buatan, belut super baru bisa dipanen dalam waktu enam hingga tujuh bulan sejak awal dipelihara.

“Tapi dengan pakan alami bisa panen setiap tiga hingga empat bulan,” ungkap Herman.

Selain itu, kecukupan pakan juga harus diperhatikan. Sebab, bila jumlah pakan kurang bisa menyebabkan terjadinya kanibalisme antarbelut. Untuk itu, ia menyarankan pemberian pakan dilakukan sebanyak dua kali dalam sehari.

Untuk metode budidayanya sendiri ada dua cara, yakni menggunakan media kolam lumpur dan menggunakan bubu bambu di sawah. Herman sendiri menggunakan media kolam lumpur. Langkah pertama yang harus dilakukan tentu menyiapkan kolamnya. Kolam tak perlu terlalu lebar. Cukup dengan diameter 2 × 5 meter sudah bisa menampung 50 kg bibit belut. Saat panen, bibit sebanyak itu bisa menghasilkan bobot 250 kg.

Setelah kolam jadi, masukkan gedebok pisang dan jerami. Lalu, masukkan pupuk kandang untuk mempercepat pembusukan gedebok pisang dan jerami. “Ketika sudah membusuk bisa jadi santapan tambahan belut,” ucapnya.

Setelah pakan tambahan siap, lalu lanjutkan dengan pemberian lumpur kering. Setelah itu, masukkan air dengan kedalaman minimal 15 cm.

“Proses pembusukan gedebok pisang dan jerami terjadi sekitar dua minggu setelah air masuk,” jelasnya. Setelah terjadi pembusukan, benih siap dimasukkan.

Cara budidaya yang lain adalah memakai bubu yang ditaruh di sawah. Prabowo, pembudidaya belut dari Yogyakarta menggunakan cara ini. “Keunggulan cara ini tidak perlu lahan,” ujarnya.

Ia hanya perlu bekerja sama dengan pemilik sawah. Dalam satu petak sawah, ia biasa menanam 20—50 bubu sebagai tempat belut bertelur. Untuk makanan, cukup menaruh cacing di sekitar bubu tersebut. Prabowo sendiri hanya fokus menjual bibit belut super ukuran 15—20 cm. “Yang penting telaten perhatikan pakan,” tutup Prabowo.

loading...
loading...