Siwab, Solusi Kementerian Pertanian Atasi Produksi Daging Sapi


Pertanianku – Kementerian Pertanian (Kementan) memiliki program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) pada 2017 mendatang sebagai salah satu upaya terstruktur yang dilaksanakan untuk mengoptimalkan fungsi reproduksi ternak betina. Dengan cara ini, sapi betina di tanah air akan dapat dioptimalkan secara maksimal.

Siwab, Solusi Kementan Atasi Produksi Daging Sapi

Berdasarkan sensus Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2013 lalu terjadi penambahan populasi sapi yang dihitung berdasarkan parameter teknis. Populasi sapi dan kerbau di Indonesia saat ini sebanyak 15.196.154 ekor. Perinciannya, sapi potong sebanyak 13.597.154 ekor, sapi perah 472.000 ekor, dan kerbau sebanyak 1.127.000 ekor.

Dari populasi tersebut terdapat populasi betina berusia 2—8 tahun sebanyak 5.918.921 ekor. Perinciannya, sapi potong sebanyak 5.622.835 ekor, sapi perah 296.086 ekor, dan kerbau 452.622 ekor.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan I Ketut Diarmita mengungkapkan, dari total potensi akseptor 5.918.921 ekor yang diperkirakan menjadi akseptor riil sebanyak 70%, sisanya adalah betina dewasa yang dalam keadaan bunting dan melahirkan.

“Dari jumlah tersebut ditargetkan sebanyak 4 juta ekor dapat dibiakkan melalui inseminasi,” kata Ketut, seperti dilansir dari Antaranews (11/11).

Untuk mencapai hal tersebut, Kementan berupaya melakukan pendekatan dengan peternak. Selama ini masyarakat yang memiliki sapi betina kurang memanfaatkannya secara maksimal. Menurutnya, kebanyakan dari mereka hanya berpikir ‘yang penting memiliki ternak’ untuk kemudian dijual saat membutuhkan uang.

Adanya koperasi peternakan dirasa Ketut memiliki peran penting agar mereka tidak segera menjual sapi betina produktif yang dimilikinya. “Ketika petani kita tidak sadar itu (optimalisasi sapi betina), maka upaya ekspor sapi kita sulit terwujud,” lanjut Ketut.

Ia menambahkan, target kebuntingan ternak dari inseminasi buatan minimal 75% atau setara dengan 3 juta ekor. Sayangnya, hal tersebut terhambat dengan kondisi ternak yang kurang baik.

Baca Juga:  Dinas Peternakan NTB Terus Galakkan Penanaman Pakan Berkualitas

Direktur Pakan Nasrullah mengatakan, 30% sapi betina mengalami gangguan reproduksi, dari angka tersebut 60 persennya diakibatkan masalah nutrisi.

Guna mengatasinya, perlu penanaman pakan berkualitas. “Secara nasional ada 13 ribu hektare yang akan kita buat,” tutur Ketut.

Sementara itu, untuk kondisi betina yang lebih parah akan diberi pakan konsentrat. “Sebab mengkonsumsi jenis hijauan saja tidak akan cukup,” tutup Ketut.

loading...
loading...