Usaha Budidaya Jamur Modal Rp1 Juta

Pertanianku – Saat ini banyak orang memutuskan untuk memiliki usaha sampingan untuk meningkatkan pendapatan yang dirasa belum mencukupi. Biasanya mereka yang memiliki usaha sampingan dikarenakan beberapa faktor. Salah satunya adalah saat masa pensiun.

hanya-punya-modal-rp1-juta-usaha-budidaya-jamur-saja

Bisnis apa saja sih yang dapat dibangun sebagai usaha sampingan yang bagus dan dapat berkembang? Mungkin satu usaha budidaya ini layak Anda coba. Ya, budidaya jamur bisa menjadi alternatif buat Anda.

Seorang pria bernama Subandi adalah seorang pensiunan dari Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Pemerintah Kabupaten Kulonprogo. Pria yang telah berusia 63 tahun ini telah pensiun dari pekerjaannya sejak 2008 silam.

Saat itulah, ia berpikir untuk memulai usaha sampingan dengan cara berbisnis budidaya jamur. Ternyata untuk memulai bisnis budidaya jamur tidaklah membutuhkan modal yang cukup besar. Bahkan, Subandi hanya mengeluarkan modal sekitar Rp1 juta pada saat memulai usaha budidaya jamur.

“Usaha jamur ini (kalau saya) hanya untuk samben. Kalau untuk pensiunan, ini cocok sekali karena tidak butuh tenaga banyak. Ora perlu macul neng panasan. Syaratnya, dekat dengan air (untuk penyiraman),” kata Subandi, sebagaimana dilansir Kompas (29/12).

Untuk menghasilkan siklus budidaya jamur yang konstan, idealnya dibutuhkan 500 baglog. Baglog adalah media tanam jamur, terbuat dari serbuk kayu yang dimasukkan ke dalam plastik dan dibentuk menyerupai potongan kayu gelondongan.

Satu baglog berharga Rp2.000 sehingga butuh modal Rp1.000.000 untuk 500 baglog. Modal usaha lainnya, yakni pembuatan rumah jamur, yang membutuhkan biaya sekitar Rp150.000.

Subandi menyebut, rumah jamur ini bisa dibangun secara sederhana, yakni dengan menggunakan bambu-bambu yang disusun seperti rak.

Dengan panjang bambu dua meter dan tinggi tiga meter, satu rak bisa menampung 150 baglog. Beri ruang antara rak satu dan yang lain sekurang-kurangnya setengah meter agar jamur tumbuh dengan sempurna.

Tak lupa, proses ini memerlukan pula penyemprot untuk menyiram setiap hari. Harga penyemprot atau sprayer ini hanya Rp40.000. Subandi mengatakan, total modal yang dibutuhkan Rp1.190.000. “BEP (break event point atau balik modal) 1 bulan 10 hari, dan masih bisa panen hingga dua kali musim panen,” papar Subandi.

Subandi adalah salah seorang nasabah PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) yang mengikuti program Daya Tumbuh Usaha. BTPN memiliki program pemberdayaan yang terukur dan berkelanjutan, yaitu Daya. Daya memiliki tiga pilar program, yaitu Daya Sehat Sejahtera, Daya Tumbuh Usaha, dan Daya Tumbuh Komunitas.

Program Daya diterapkan pada semua unit bisnis BTPN, yaitu BTPN Purna Bakti (unit bisnis yang fokus melayani nasabah pensiunan), BTPN Mitra Usaha Rakyat (unit bisnis yang fokus melayani pelaku usaha mikro dan kecil), BTPN Mitra Bisnis (melayani pelaku usaha menengah), serta BTPN Sinaya (bisnis pendanaan BTPN). Daya juga diimplementasikan pada anak usaha BTPN Syariah.

Regional Governance Head BTPN Purna Bakti untuk Wilayah Jawa Tengah Hari Suseno mengatakan, mayoritas atau 70% nasabah BTPN Purna Bakti adalah pensiunan pegawai negeri sipil (PNS).

Program Daya diharapkan dapat membangun dan menggairahkan semangat berwirausaha, meski usia sudah senja. “Diharapkan, kalau mereka punya inspirasi, mereka kan bisa mengembangkan,” jelas Heri.

Sepanjang 2014, jumlah nasabah yang mengikuti program Daya sebanyak 1,77 juta orang. Pada kuartal I 2015, jumlah nasabah peserta Daya sekitar 311.000 orang, dari komunitas prasejahtera produktif.

loading...
loading...