Wow Membanggakan! Teknologi Padi RI Dilirik Petani Dunia!

0

Pertanianku – Saat ini pertanian Indonesia telah mengaplikasikan beberapa teknologi modern guna meningkatkan proses produksi pertanian dalam negeri. Teknologi penanaman padi yang saat ini digunakan adalah Hazton.

wow-membanggakan-teknologi-padi-ri-dilirik-petani-dunia

Menurut Kepala Dinas Pertanian TPH Kalbar, Hazairin teknologi penanaman padi Hazton saat ini sudah dilirik petani di dunia seperti dari India, Inggris, dan Malaysia karena produtivitas metode tersebut yang menghasilan minimal dua kali lipat dari biasanya.

“Apalagi di luar Kalbar yang merupakan daerah lahirnya Hazton, seperti di petani dari Pulau Jawa. Petani Pulau Jawa sangat antusias menerapkan Hazton. Hal itu diterima karena jika penerapan sesuai SOP yang ada maka hasilnya minimal dua kali lipat,” kata Hazairin, belum lama ini seperti melansir Republika (21/12).

Dengan perhatian dan antusias luar biasa dari luar Kalbar, Hazairin sangat menyayangkan sejumlah petani di Kalimantan Barat justru ada yang menolak seperti di Kabupaten Kubu Raya dan Ketapang. “Kita tidak tahu mengapa pemerintah daerah menolak penanaman Hazton padahal untuk penerapan teknologi ini sebagai percontohan itu dibantu pemerintah pusat. Seperti di KKR itu mendapat jatah 4.000 hektare namun ditolak,” tambahnya.

Saat ini kata dia, penerapan Hazton melalui APBN 2016 di Indonesia ada 50 ribu hektare. Kemudian dilihat dari provinsi yang menerapkan sebanyak 24 provinsi.

“Kalbar sendiri mendapatkan kuota Hazton sebanyak 35 ribu hektare. Saat ini hampir semua terealisasi. Ada beberapa di daerah seperti di Sambas, jatah 10 ribu hektar itu kurang. Mereka kurang karena sudah merasakan hasilnya berkali-kali lipat,” terangnya.

Saat ini katanya dari sejumlah daerah menanam padi dengan teknologi Hazton untuk gagal panen sangat rendah, yakni masih di bawah satu persen. Kemudian untuk tingkat keberhasilan sesuai target sendiri baru mencapai 10%.

“Untuk target hasil dari teknologi kita dari apa yang diusahakan petani 10%. Meski demikian saat ini hasilnya cukup lumayan, yakni minimal dua kali lipat. Target kita dalam satu hektare itu paling tidak tiga kali lipat dari rata-rata saat ini yang hanya 3 ton per hektare di Kalbar,” kata dia.

Pada sisi lain kata Hazairin, ia mengakui untuk penerapan suatu teknologi perlu edukasi dan sosialisasi. Menurutnya, adanya penolakan karena keraguan saja dan ketidakmauan penyuluh dalam membimbing.

“Kadang dalam penerapan ragu sehingga dengan itu hasilnya tidak mencapai target. Kita akan terus menerapkan teknologi ini sebab di sisi lain teknologi sangat efektif dalam produktivitas,” tutupnya.

loading...
loading...