Yuk, Lihat Sentra Produksi Salak di Indonesia!


Pertanianku – Salak adalah tanaman buah yang banyak tumbuh di Indonesia. Di Indonesia sendiri salak yang sangat terkenal adalah salak pondoh. Selama ini sentra produksi salak yang terkenal adalah di Yogyakarta dan Bali. Namun, ternyata terdapat satu lagi daerah yang menjadi sentra produksi salak.

Daerah tersebut terletak di Kabupaten Donggala, tepatnya di Desa Tamarenja, Kecamatan Sindue Tobata. Desa Tamarenja terbilang desa yang sangat asri. Secara geografis, letaknya berada pada 500 meter di atas permukaan laut dan dikelilingi pemandangan alam yang indah.

Hampir semua rumah yang ada di desa ini, ditanami pohon salak di bagian pekarangan belakangnya.

“Salak di desa kami ini paling baik dibandingkan salak lainnya yang ada di Kabupaten Donggala,” jelas Aksan Kepala Desa Tamarenja.

Untuk meningkatkan nilai jualnya, masyarakat di sana sudah memproduksi berbagai penganan seperti dodol salak, keripik salak, dan asinan salak.

Sayangnya, proses pembuatan penganan itu masih menggunakan peralatan tradisional. Oleh karena itu, dibutuhkan mesin yang mampu memproduksi penganan berkapasitas besar.

Selain persoalan mesin pembuat penganan, masyarakat di Desa Tamarenja juga menghadapi kendala pasar. Hasil panen salaknya hanya bisa dijual ke tengkulak.

Menurut Aksan, para petani hanya menjual seharga Rp200.000 per karung. Padahal, tengkulak menjualnya dengan cara kiloan. Untuk satu karung, kalau dijual per kilo, bisa menghasilkan Rp600.000.

Apalagi jika sedang panen raya, salak yang dihasilkan mampu mencapai 3 ton dalam sehari petik.

Karena itulah, jika di desanya berdiri pasar desa, masyarakat akan sangat terbantu. Sebab, harga jualnya akan jauh lebih baik dibanding saat ini.

Aksan juga berharap agar masyarakat di desanya mendapatkan pelatihan untuk meningkatkan kualitas produksi turunan hasil pertanian, khususnya salak.

Baca Juga:  Apa sih Keistimewaan Labu Kuning?

Misalnya melakukan studi banding ke Bali dan Yogyakarta, sebagai daerah penghasil salak terbaik di Indonesia. “Kami memang sudah berharap bisa ikut pelatihan langsung ke Bali,” ucap Aksan.

Keinginan Kades Aksan pun diamini Kepala Badan Pengembangan Masyarakat Desa (PMD) Aritatriana. “Kami dari PMD memang akan terus memberikan pelatihan kepada masyarakat, khususnya masyarakat desa yang memiliki potensi, agar bisa muncul,” katanya.

Menurut Rita, memang ada beberapa persoalan di Desa Tamarenja ini yang harus segera ditangani. Selain masalah pasar, juga masalah jalan penghubung, yakni dari jalan utama ke desa. Termasuk lampu penerangan jalan dan kendaraan angkutan hasil pertanian.

loading...
loading...