Terobosan Baru Dunia Pertanian: Menanam Jagung Tanpa Olah Tanah


Pertanianku – Menanam jagung menggunakan metode Tanpa Olah Tanah (TOT) sudah lama diterapkan di beberapa negara maju di dunia. Di negara maju, penanaman tanpa olah tanah biasanya menggunakan alat planter. Sementara itu, di Indonesia biasanya cukup menggunakan tugal. Tugal diperlukan untuk melubangi permukaan tanah tempat benih ditanam.

inilah-kelebihan-dan-kekurangan-metode-tot

Berikut tata cara menanam jagung dengan menggunakan metode TOT:

Persiapan benih

Hal pertama yang harus dipersiapkan adalah benih yang berkualitas. Pasalnya, benih yang berkualitas nantinya akan memengaruhi proses penanaman.

Penyiapan benih sebaiknya mengikuti anjuran produsen benih tersebut. Bagi benih jagung yang bukan dari pabrikan, benih bisa disiapkan terlebih dahulu dengan cara merendam terlebih dahulu dengan insektisida. Gunanya, benih terlindung dari serangan penyakit saat ditanam. Bagi benih yang diproduksi pabrik, biasanya sudah dicampur dengan insektisida, penampakan benih biasanya berwarna merah, sehingga tidak perlu perendaman dengan insektisida.

Pengaturan jarak tanam

Jarak tanam untuk tanaman jagung dalam satu baris sekitar 20 cm, sedangkan jarak antarbaris 70—75 cm. Bila bedengan yang dibuat selebar 2 meter, akan terdapat setidaknya 3 baris tanaman jagung dalam satu bedeng.

Penanaman

Penanaman benih bisa dilakukan maksimal seminggu setelah pemberian pupuk organik dan pengapuran. Lubang tanam dibuat dengan tugal atau mesin planter. Kedalaman lubang tanam sekitar 3—5 cm. Masukkan 2 benih jagung dalam satu lubang tanam. Kemudian tutup dengan dengan tanah, jangan dipadatkan.

Siapkan juga tempat penyemaian benih secara terpisah, gunanya untuk menyulam tanaman jagung yang gagal tumbuh.Hal ini juga bertujuan agar tanaman hasil sulaman memiliki umur yang sama dengan tanaman yang telah ditanam di lahan.

Periksa pertumbuhan benih setelah satu minggu. Kemudian sulam benih yang gagal tumbuh dengan bibit yang telah disemaikan di tempat terpisah. Usahakan penyulaman dilakukan dengan tanaman yang seumur.

Baca Juga:  Ini Dia Manfaat Jengkol dan Dampak Negatifnya Buat Kesehatan

Pemberian pupuk tambahan

Pemupukan tambahan dilakukan sebanyak 2—3 kali dalam satu masa tanam tergantung dari tingkat kesuburan tanah dan jenis benih yang digunakan. Jagung hibrida biasanya membutuhkan pemupukan yang lebih banyak dibanding jagung biasa.

Jenis pupuk yang dibutuhkan tanaman jagung harus memenuhi unsur N, P, dan K. Unsur N bisa didapatkan dari urea, unsur P dari SP-36, dan unsur K dari KCl. Takaran pupuk untuk budidaya jagung berdasarkan anjuran Balitbangtan per hektarnya adalah 350 kg Urea + 200 kg SP-36 + 100 kg KCl.

Bila kesulitan mendapatkan KCL, unsur K bisa didapatkan dari pupuk NPK. Dengan takaran sebagai berikut: 400 kg NPK 15:15:15 + 270 kg urea + 80 kg SP-36 untuk setiap hektarnya. Untuk frekuensi pemukan dua kali, berikan pada 10 dan 35 hari setelah tanam (hst). Untuk frekuensi pemupukan 3 kali berikan pada umur 7—10 hst, 28—30 hst dan 40—45 hst.

Pengairan

Pengairan yang paling mudah digunakan untuk penanaman jagung di lahan sawah adalah dengan sistem penggenangan. Bagian yang digenangi air hanya bagian parit drainase saja bukan seluruh lahan. Caranya alirkan air ke saluran drainase yang telah dibuat. Biarkan air meresap pada tanah bedengan. Setelah tanah tampak basah, keluarkan kembali air dari saluran drainase.

Terdapat lima fase pertumbuhan tanaman jagung yang memerlukan pengairan, yakni fase pertumbuhan awal, fase pertumbuhan vegetatif, fase pembungaan, fase pengisian biji, dan fase pematangan.

Panen dan pascapanen

Tanaman jagung bisa dipanen sekitar 100 HST, tergantung dari jenis benih yang digunakan. Secara fisik jagung yang siap panen terlihat dari daun klobotnya yang mengering, berwarna kekuningan. Panen yang dilakukan sebelum atau setelah masa fisiologinya akan berakibat pada komposisi kimia jagung yang menentukan kualitasnya.

Baca Juga:  Kementan Bangun Kawasan Pertanian Modern Serpong

Setelah panen, jagung harus dikeringkan terlebih dahulu. Cara pengeringan yang paling umum adalah dengan menjemurnya di ladang bersama-sama dengan klobotnya. Atau bisa juga dikupas kelobotnya kemudian jagung dijemur di lantai atau di atas terpal.

Kerusakan masih bisa terjadi saat proses pengeringan terutama bila panen dilakukan di musim hujan. Jagung yang masih basah sangat rentan dengan serangan jamur atau cendawan. Jamur bisa merusak hasil panen hingga lebih dari 50%.

loading...
loading...