4 Hal Penting yang Harus Diperhatikan dalam Replanting Kelapa Sawit


Pertanianku — Dalam membangun perkebunan kelapa sawit diperlukan perencanaan yang matang. Pasalnya, umur satu siklus dari tanaman sawit ialah 25—30 tahun. Agar pelaksanaan replanting kelapa sawit sesuai dengan rencana, maka ada beberapa hal krusial yang perlu diperhatikan.

replanting kelapa sawit
Foto: Shuttterstock

Hal apa sajakah itu? Mari simak ulasan berikut ini yang akan membantu Anda supaya replanting berjalan lancar dan bisa meminimalisir kemungkinan buruk yang akan terjadi.

  1. Perencanaan biaya

Biaya perlu dihitung secara matang supaya suatu usaha dapat berjalan dengan lancar. Dalam perkebunan kelapa sawit, biaya yang perlu dihitung, yakni biaya tanam dan biaya pemeliharaan. Sumber dana bisa berasal dari dana sendiri, pinjaman dari perusahaan inti atau pinjaman dari bank.

Selain itu, pemerintah juga mendorong penggunaan kredit usaha rakyat (KUR) untuk replanting tanaman, salah satunya tanaman sawit. Akan tetapi, khusus untuk replanting, harus ada koordinasi denganKementerian Pertanian karena tidak semua tanaman di-replanting.

  1. Perencanaan fisik

Selanjutnya, Anda perlu melakukan perencanaan fisik berupa pembersihan lahan yang dapat dilakukan dengan dua cara, yakni mekanis dan kimia. Cara mekanis umumnya dilaksanakan pada lahan mineral.

Pembakaran pohon dan ranting saat ini tidak diizinkan lagi karena menghasilkan asap yang dapat mengganggu penerbangan dan kesehatan. Jadi, rumpukan harus disusun sedemikian rupa memanjang di antara barisan tertentu hingga lapuk.

Adapun pengolahan tanah secara kimia umumnya dilakukan pada perkebunan rakyat. Pengolahan lahan dengan cara ini dinilai lebih praktis. Setelah penebangan pohon, lakukan pembersihan ranting-ranting sehingga lahan siap disemprot. Penyemprotan herbisida umumnya dilakukan 3—4 kali agar hasilnya baik.

  1. Bibit kelapa sawit

Pastikan bahwa bibit kelapa sawit yang siap tanam sudah tersedia pada saat replanting dilaksanakan. Persiapan penyediaan bibit dan pengolahan tanah harus sinkron. Bibit yang siap ditanam jumlahnya harus cukup dan berkualitas baik.

  1. Organisasi
Baca Juga:  Petani dan Nelayan Dibantu FAO untuk Bangkit Pascagempa

Organisasi merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan. Struktur, sifat, dan pelaksanaan dapat berubah-ubah sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Namun banyak pula yang menganggap organisasi ini merupakan sesuatu yang tidak dapat diubah. Misalnya, organisasi kebun kelapa sawit pada saat pembukaan baru tentu berbeda dengan kelapa sawit yang sudah menghasilkan.

Semakin sederhana bentuk organisasi, maka akan semakin baik. Asalkan tugas dan wewenang diberikan secara jelas. Parameter keberhasilan harus dapat diukur.