5 Teknologi Pertanian Hasil Inovasi Anak Bangsa

Pertanianku — Teknologi pertanian bertujuan untuk mempermudah manusia di bidang pertanian. Teknologi yang berkembang di Indonesia sendiri berperan besar pada pengembangan alat-alat produksi, pemanfaatan pertanian, dan sektor irigasi. Berikut ini beberapa teknologi pertanian hasil inovasi anak bangsa yang luar biasa dalam membantu kemajuan Indonesia di sektor pertanian dan lingkungan.

teknologi pertanian hasil inovasi anak bangsa
Foto: Teknologi terbarukan di bidang pertanian hasil inovasi generasi muda (Pixabay)

1. Bioplastik

Seorang pemuda asal Bali bernama Kevin Kumala berhasil menciptakan inovasi berupa bioplastik. Bioplastik tersebut tercipta akibat rasa prihatin dirinya akan kondisi pantai Bali yang dipenuhi sampah. Setelah percobaan bahan plastik menggunakan jagung, kedelai, dan singkong, pilihan pun jatuh kepada singkong. Hal tersebut karena menghasilkan produk lebih banyak dengan harga yang murah.

Loading...

Bioplastik karya Kevin benar-benar aman untuk makhluk hidup. Plastik dari singkong tersebut dalam 90 hari akan hancur dan menjadi kompos tanaman bila diletakkan dalam tanah.

2. Penghasil listrik dengan pohon kedondong

Inovasi ini datang dari seorang anak bernama Naufal, yang baru saja lulus dari MTs Negeri 1 Langsa, Aceh. Naufal membuat listrik dari pohon kedondong sejak umurnya 12 tahun. Saat itu, dirinya menerima pelajaran bahwa buah-buahan seperti kedondong, mangga, belimbing, dan buah dengan kandungan asam lain mampu menghasilkan arus listrik. Ia pun mencobanya pada pohon kedondong.

Menurut Naufal, untuk menghasilkan listrik dari pohon kedondong ini membutuhkan tembaga, logam, dan kain ataupun tisu. Caranya, yaitu dengan melubangi pohon, kemudian tembaga dan logam yang telah dilapisi kain atau tisu dimasukkan ke lubang pohon. Kain atau tisu yang telah menyerap asam pohonlah yang mampu membuat tembaga dan logam mengaliri arus listrik.

3. Aplikasi pemantau tanaman

Teknologi pertanian karya anak bangsa selanjutnya adalah suatu aplikasi yang mampu mengukur kelembapan dan nutrisi dalam suatu tanaman. Aplikasi tersebut bernama Habibi, dikembangkan oleh perusahaan startup Indonesia, Habibie Garden. Pemantauannya yang real time dapat dimanfaatkan oleh petani untuk mengurangi rusaknya tanaman dan meningkatkan hasil panen.

Baca Juga:  Apa itu Produk Pangan Rekayasa Genetika?

Cara penggunaan aplikasi Habibi sangat sederhana. Anda hanya perlu meletakkan alat di lahan. Lalu, data-data seperti temperatur, cahaya, kadar air, kelembapan, dan nutrisi tanah akan diproses dan dikirimkan ke smartphone Anda. Selanjutnya, terdapat pengontrol yang bernama Habibi dosis pump yang mampu memberikan pupuk serta air kepada tanaman secara terukur dan tepat.

4. Helm green composite

Seorang peneliti bernama Siti Nikmatin yang merupakan dosen Fakultas MIPA IPB berhasil menciptakan helm yang terbuat dari bahan campuran serat tandan kosong kelapa sawit. Helm yang berasal dari serat tumbuhan ini memiliki komposisi 20 persen serat tumbuhan dan sisanya adalah polimer Akrilonitril Butadiena Stiren (ABS). Helm ini digadang-gadang tahan terhadap benturan.

Menurut penanggung jawab produksi helm Green Composite, helm ini memiliki skor kriteria cedera kepala sebesar 800 poin. Sementara, standar SNI harusnya tidak lebih dari 3000 poin. Helm ini juga lolos standar negara Amerika yang tidak boleh lebih dari 1000. Dengan begitu, helm ini sangat baik untuk melindungi kepala dan lolos untuk pemasaran internasional.

5. Drone sawah

Meskipun drone bukanlah berasal dari Indonesia, Balai Penelitian Lingkungan Pertanian Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Jawa tengah, berhasil memanfaatkan teknologi tersebut untuk kegiatan pertaniannya. Pemanfaatan drone di kecamatan tersebut adalah sebagai penyemprot pestisida. Berkat teknologi drone, penyemprotan dapat dilakukan dengan cepat dan efisien. Selain bisa mengurangi dampak terpaparnya pestisida terhadap penyemprotnya, penyemprotan pestisida ini bisa dilakukan sangat cepat untuk lahan yang luas. Dipaparkan bahwa penyemprotan satu hektare sawah hanya dilakukan selama setengah jam. Sementara, apabila menggunakan cara manual, bisa memakan waktu hingga tiga jam lamanya.

Loading...
Loading...