75.000 Ton Garam Impor Asal Australia Mulai Masuk RI


Pertanianku – Guna memenuhi kebutuhan garam dalam negeri, terlebih lagi karena Indonesia sedang mengalami kelangkaan garam, sebanyak 75.000 ton garam impor asal Australia mulai masuk ke Indonesia. Gelombang pertama garam impor masuk Indonesia sebanyak 25.000 ton garam telah tiba di Pelabuhan Ciwandan, Banten.

Foto: pixabay

Gelombang berikutnya akan kembali masuk ke dua pelabuhan lain, yakni Tanjung Perak Surabaya dan Pelabuhan Belawan Medan.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan, pemerintah memang telah menentukan pemasukan garam impor asal Australia melalui ketiga pelabuhan tersebut.

“Total 75.000 ton dibagi rata (masing-masing) 25.000 ton dan masuk lewat tiga pelabuhan. Yang di Pelabuhan Ciwandan sudah masuk,” terang Oke Nurwan di Kementerian Perdagangan (Kemendag), belum lama ini, seperti mengutip Kompas (14/8).

Pihaknya akan memastikan, impor garam yang dilakukan pemerintah saat ini sudah melalui perencanaan yang matang sehingga tidak akan mengganggu produksi garam dalam negeri.

“Jadi (impor) tidak ganggu produksi dalam negeri dan kebutuhan tetap terpenuhi. Itu sudah diatur dari awal. Makanya kita izinkan 75.000 ton, kebutuhan itu 100.000 ton,” ungkapnya.

PT Garam sebagai importir tunggal yang ditugaskan pemerintah akan melakukan distribusi garam ke sejumlah industri untuk diolah menjadi garam konsumsi beryodium. Direktur Utama PT Garam (Persero) Dolly Parlagutan mengatakan garam impor asal Australia akan masuk di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

“Selanjutnya kapal MV Golden Kiku pada tanggal 11 Agustus 2017 pukul 18.00 WIB akan tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, dan membawa garam impor sebesar 27.500 ton,” jelasnya.

Kapal MV Uni Challenge yang dijadwalkan akan tiba pada 21 Agustus 2017 di Pelabuhan Belawan, Medan, dengan membawa garam konsumsi impor sebanyak 22.500 ton. Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan izin impor bahan baku garam konsumsi sebanyak 75.000 ton itu akan mencukupi kebutuhan hingga masa panen tiba.

Baca Juga:  Bagaimana Nasib Petani Garam di Indonesia
loading...
loading...