Ada Sawo Raksasa di Ponorogo, Bobotnya Hampir 3 Kilogram


Pertanianku Ada sawo raksasa di Ponorogo yang ukurannya benar-benar jumbo. Sawo tersebut dikembangkan oleh Zaky Arista, alumni Universitas Brawijaya.

Ada sawo raksasa di Ponorogo
Foto: Google Image

Sawo tersebut dikatakan raksasa karena berbeda dengan sawo pada umumnya. Buah ini memiliki bobot 1—2,7 kilogram per buahnya. Selain ukurannya, cara memakannya pun berbeda, buah ini tidak bisa langsung dimakan.

Saat sawo jatuh dari pohon, maka harus menunggu dua hari hingga buah terasa empuk dan setelah itu baru bisa dimakan.

“Satu buah sawo bisa memiliki berat 1—2,7 kg. Kami jualnya per buah, satu buah Rp300 ribu,” kata Zaky di rumahnya Jalan Rumpuk, Kelurahan Kertosari, Ponorogo seperti dilansir Detikcom, Selasa (20/3/2018).

Ia menerangkan, buah sawo raksasa atau Mamey sapote (Pouteria sapota) merupakan spesies tanaman pohon sawo dari Amerika Tengah.

“Pohon saya ini sudah berumur 8 tahun, meski sudah banyak di kalangan penghobi tanaman. Namun sawo ini bukan asli Indonesia,” jelas Zaky.

Alumni Universitas Brawijaya ini menambahkan, buah sawo jumbo yang tumbuh di pekarangannya termasuk tanaman langka. Meski begitu, saat berbuah tidak mengenal musim.

“Dari kecil sampai buah matang bisa memakan waktu 10 bulan, satu pohon biasanya sampai 20 buah,” terang Zaky.

Zaky mengaku, selama proses menanam pohon sawo raksasa ini tidak menemui kendala. Menurutnya, asal rajin melakukan pemupukan, tanaman dengan buah raksasa ini bisa tumbuh dengan baik. Pupuk yang digunakan pun ada pupuk organik dan pupuk buah.

“Tanaman ini bisa tahan lalat buah, ini salah satu keuntungan. Biasanya jika tanaman buah, rentan dengan serangan lalat buah. Kalau ini justru aman,” ujar dia.

Lebih lanjut Zacky menuturkan, dirinya baru mulai panen tahun lalu (2017), sekarang ini sudah panen 2 kali. “Panennya baru 2017 dan tahun 2018,” katanya.

Baca Juga:  Tiga Orang Pencari Ikan Tewas Tertimpa Tanah Longsor

Zaky mengklaim, di Ponorogo hanya ada satu-satunya pohon sawo jumbo, yakni yang ada di rumahnya. Rasanya pun hampir sama dengan sawo pada umumnya, cenderung manis namun tidak lengket. “Di Ponorogo yang berhasil berbuah satu-satunya hanya di sini,” tegas dia.