Akibat Garam Langka, Karyawan Dirumahkan


Pertanianku — Kelangkaan garam yang terjadi baru-baru ini membuat para pengusaha garam merumahkan karyawan. Ini yang terjadi pada Setyo Puji Santoso, pengusaha garam di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Ia mengatakan bahwa langkanya garam ini sudah terjadi sejak lebaran lalu sehingga membuatnya harus merumahkan pekerjanya.

“Bahkan, pengemasan garam terakhir saya lakukan hari setelah lebaran dan hingga saat ini tidak ada kegiatan lagi. Oleh karena itu, saya terpaksa merumahkan 19 pekerja,” kata Setyo seperti dikutip dari Antara (26/7).

Setyo pun berharap pemerintah dapat segera mengatasi kelangkaan garam yang memicu lonjakan harga komoditas tersebut.

“Saya kira, pemerintah telah bekerja untuk mengatasi kelangkaan garam ini,” tuturnya.

Harga garam dapur halus di area Purwokerto Rp13.000 per bal (isi 20 bungkus) dari sebelumnya Rp7.500. Adapun garam dapur kotak semula Rp5.000 per kantong (isi 20 biji) menjadi Rp7.000—Rp8.000 per kantong.

Kelangkaan garam juga terjadi di Bengkulu yang membuat para pengusahanya merumahkan karyawan. Ini seperti yang terjadi pada CV Abadi yang merumahkan karyawannya hingga pasokan bahan baku normal.

“Kami tidak memecat, karena tidak ada yang diproduksi jadi mau tidak mau ya harus dirumahkan, ada belasan, utamanya ibu-ibu yang bekerja di bagian pengemasan,” kata Indra dari CV Abadi.

Kepastian kapan karyawannya kembali kerja, Indra juga belum memastikan. Sebab, hal tersebut bergantung pada pasokan bahan baku garam yang juga belum bisa dipastikan.

“Kami mendatangkan bahan baku dari Madura, Jawa Timur dan sampai saat ini di sana masih gagal panen, masih diupayakan bisa panen pada September 2017 nanti, namun itu juga belum pasti mengingat cuaca,” kata dia lagi.

Menurut Indra sampai saat ini Bengkulu belum ada petani garam karena lokasi pantai daerah itu belum terbukti cocok untuk dijadikan tambak garam.

Baca Juga:  Stok Garam Menipis, Ternyata Ini Alasannya

“Di sini daerah muara sungai dan teluk, selain itu perlu kajian ilmiah dan laboratorium apakah layak dan memenuhi standar kesehatan,” kata dia lagi.

loading...
loading...