Akibat Manusia, Makhluk Laut Terdalam pun Makan Plastik

Pertanianku — Saat ini, tak ada satu daerah pun di bumi yang belum tercemar plastik, bahkan di laut terdalam sekalipun dampak sampah masih dapat dirasakan. Pertama kalinya dalam sejarah, para peneliti menemukan plastik di perut makhluk laut terdalam bumi.

makhluk laut terdalam bumi
Foto: Pixabay

Penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Royal Society Open Science memaparkan, sekelompok tim peneliti dari Newcastle University di Inggris mengirimkan robot ke enam palung hadopelagik, yakni Jepang, Izu-Bonin, Peru-Cile, New Hebrides, Kermadec, dan Kedalaman Challenger Mariana.

Robot ini dikirim tidak hanya untuk memonitor kondisi bawah laut, tetapi juga mengambil sampel kehidupan yang berada di sana. Secara total, para peneliti berhasil mengumpulkan 90 amphipoda, sejenis makhluk lautan kecil.

Loading...

Para peneliti kemudian mencoba untuk mencari keberadaan plastik di saluran pencernaan mereka, tepatnya di bagian akhir pencernaan agar tidak tercampur dengan plastik yang tertelan ketika diangkat dari laut terdalam. Hasilnya sangat menyedihkan. Plastik ditemukan dalam pencernaan 72 persen ampipoda.

Lalu, semakin dalam di lautan mereka berada, semakin banyak plastik yang mereka telan. Dari Palung New Hebrides, misalnya. Plastik “hanya” ditemukan pada 50 persen ampipoda. Namun, semua ampipoda yang hidup di Kedalaman Challenger (sekitar 10.890 meter) ditemukan telah memakan plastik.

Para peneliti menduga bahwa hal ini terjadi karena sifat dari palung itu sendiri. Peneliti kelautan Alan Jamieson dari Newscastle University pernah berkata pada 2017, ketika dia pertama kali mengungkapkan hasil penelitiannya, bahwa akhir perjalanan dari sampah plastik adalah laut dalam.

“Jika Anda mengontaminasi sungai, sampahnya bisa dialirkan hingga bersih. Jika Anda mengontaminasi pesisir, sampahnya bisa disingkirkan oleh ombak. Tapi di laut terdalam, sampah diam saja. (Laut terdalam) tidak bisa membersihkan dirinya, dan tidak ada hewan yang keluar atau masuk ke palung-palung ini,” jelasnya.

Jamieson pun berkata bahwa studi yang dilakukannya telah membuktikan bahwa mikrofiber buatan manusia sedang berakumulasi di ekosistem yang belum kita pahami dengan baik.

“Pengamatan ini adalah rekor terdalam adanya mikroplastik yang dimakan, (ini) menunjukkan bahwa kemungkinan besar tidak ada lagi ekosistem kelautan yang belum terdampak oleh sampah antropogenik,” katanya.

Loading...
Loading...