Alasan Budidaya Magot Mulai Dilirik Banyak Orang

Pertanianku — Belakangan ini mulai banyak pembudidaya magot yang bermunculan di dunia maya. Pada dasarnya budidaya magot memang menguntungkan karena larva lalat ini memiliki banyak manfaat. Mulai dari sebagai pakan ternak yang kaya protein hingga penyelamat lingkungan. Mungkin Anda yang belum mengenal magot penasaran bagaimana bisa ternak larva lalat yang identik pembawa penyakit bisa menjadi booming. Yuk, simak ulasan lebih lengkap mengenai magot di bawah ini!

budidaya magot
foto: Trubus

Apa itu magot

Magot merupakan larva dari serangga Hermetia illucens atau lebih dikenal sebagai black soldier fly (BSF). Sebelum dikenal dengan sebutan magot, larva ini dikenal dengan nama ‘belatung’. Dalam bahasa Inggris larva ini dikenal dengan istilah ‘maggot’. Namun, karena belatung memiliki persepsi yang cenderung negatif, banyak pakar yang membedakan istilah untuk larva serangga BSF dengan nama magot dan larva housefly (lalat rumah) dengan nama belatung.

Pada dasarnya magot dan belatung memiliki fungsi yang berbeda. Belatung yang berasal dari lalat rumah berperan sebagai vektor penyakit. Adapun magot berperan sebagai agen perombak organik dalam waktu yang relatif cepat sehingga dapat meningkatkan kesuburan tanah.

Secara alami, populasi lalat BSF memang jarang ditemui karena tingginya predasi terhadap spesies ini oleh semut. Itu sebabnya Anda jarang menemukan lalat BSF di lingkungan sekitar, sedangkan lalat housefly sangat mudah ditemukan.

Setelah mengenal magot dengan baik, berikut ini beberapa alasan banyak orang yang mulai tertarik mencoba budidaya magot.

Pakan alternatif yang unggul

Magot mengandung protein yang cukup tinggi 40–50 persen sehingga dapat berperan sebagai sumber protein hewan untuk ikan air tawar dan ternak. Banyak orang yang membudidayakannya sebagai pakan alternatif yang unggul karena magot memiliki masa hidup yang cukup lama kurang lebih 4 minggu. Selain itu, proses produksinya tidak memerlukan teknologi tinggi sehingga coock dilakukan di daerah sentra perikanan untuk menekan biaya produksi.

Baca Juga:  Jaliteng, Sapi Lokal yang Cepat Besar

Agen biokonversi sampah organik

Beberapa penelitian mengungkapkan larva BSF mampu mereduksi sampah organik mencapai 66–79 persen. Laju konsumsi sampah oleh larva BSF sangat bervariasi, bergantung pada jenis sampah, kadar air, jumlah larva, ukuran larva, dan suhu lingkungan. Sampah-sampah organik yang dikonsumsi oleh magot akan berubah menjadi pupuk organik yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman. Dengan begitu, magot memiliki peran ganda, yaitu mengolah sampah organik dan menghasilkan pupuk organik.