Antraknosa, Kendala Terbesar Dalam Budidaya Cabai

Pertanianku – Penyakit antraknosa merupakan salah satu kendala terbesar dalam usaha tani cabai keriting. Penyakit ini dapat menyerang tanaman dan dapat menyerang buah muda yang mulai terbentuk, buah matang, hingga setelah buah dipanen. Serangan penyakit ini sangat merugikan karena buah akan dapat gugur sebelum dipanen, bahkan busuk sebelum atauketika sudah dapat dipanen (dalam penyimpanan). Dengan demikian, penyakit ini merupakan penyakit yang dianggap paling merugikan dibandingkan dengan penyakit cabai lainnya. Cendawan penyebab antraknosa termasuk salah satu patogen yang terbawa oleh benih.

Antraknosa, Kendala Terbesar Dalam Budidaya Cabai

Penyebaran penyakit ini terjadi melalui percikan air, baik air hujan maupun alat semprot. Seperti halnya penyakit pada umumnya, penyakit ini sangat cepat berkembang pada musim hujan. Di Indonesia penyebaran penyakit antraknosa sudah sangat meluas, baik pertanaman di dataran rendah maupun dataran tinggi. Suhu optimum bagi perkembangan cendawan ini berkisar 20—24o C. Gejala awal penyakit ini ditandai dengan munculnya bercak yang akan mengilap, sedikit terbenam dan berair, berwarna hitam, oranye dan cokelat. Dalam waktu yang tidak lama buah akan berubah menjadi cokelat kehitaman dan membusuk.

Loading...

Pencegahan dapat dilakukan dengan membersihkan lahan dan tanaman yang terserang agar tidak menyebar. Seleksi benih atau menggunakan benih cabai yang tahan terhadap penyakit ini perlu dilakukan mengingat penyakit ini termasuk patogen tular benih. Perendaman benih dalam air hangat kuku (55—60o C) selama 30 menit atau pemberian fungisida sistemik, yaitu golongan triazole dan pyrimidin(0,05—0,1%) sebelum ditanam. Penyiraman bibit dengan fungisida, seperti Antracol pada umur 5 hari sebelum pindah tanam. Pergiliran atau rotasi tanaman dengan tanaman yang bukan golongan terung-terungan (tomat, terung) atau tanaman inang lainnya juga dapat dilakukan. Penggunaan mulsa plastik juga dapat dilakukan agar bagian bawah permukaan daun tidak terlalu lembap. Jika diperlukan dapat dilakukan pengendalian secara kimiawi yaitu dengan menyemprotkan fungisida, di antaranya Antracol 70 WP, Daconil 70 WP, dan Manzate 82 WP (fungisida kontak); Folicur 25 WP, Topsin M70WP, Previcur N, Starmyl 25 WP, Score 250 EC, dan Amistartop 325 EC (fungisida sistemik).

Baca Juga:  Penyebab Benih Jagung yang Ditanam Tidak Tumbuh

 

Sumber: Buku Cabai Kualitas Premium

Loading...
Loading...