Asal Petani Pertama Asia Tenggara Diketahui dari Jejak DNA


Pertanianku Petani pertama Asia Tenggara ternyata berasal dari Cina. Hal itu terungkap karena para arkeolog mengambil DNA dari tulang yang ditemukan di Vietnam, Kamboja, Thailand, dan Myanmar. Penelitian itu sebenarnya bertujuan memperkirakan kapan pertama kalinya gen pemburu-pengumpul muncul di kawasan tersebut.

Petani pertama Asia Tenggara
Foto: Google Image

Mereka menemukan, gen Cina Selatan bertepatan dengan munculnya pertanian di Asia Tenggara sekitar 4.100 hingga 4.500 tahun lalu, yang juga bersamaan dengan munculnya tembikar dan peralatan yang dibuat dengan gaya Cina Selatan. Sementara itu, denyut gen kedua mengalir dari Cina ke Asia Tenggara beberapa ribu tahun kemudian.

“Analisis genetik menguatkan bukti linguistik dan arkeologi dari penyebaran manusia di Asia Tenggara,” kata Marc Oxenham, seorang ahli bioarkeologi di Australian National University dan anggota penulis studi yang diterbitkan dalam jurnal Science, mengutip Kompas, Jumat (18/5/2018).

“Kami telah menemukan bukti pergerakan genetik dan (genetik) campuran. Baik itu menyatukan kehidupan orang-orang kuno melalui tembikar atau menjelajahi silsilah genetik lewat DNA kuno, (masing-masing) memiliki benang merah yang membentuk Asia Tenggara kuno,” tambahnya menjelaskan penemuan tersebut .

Sekitar 4.500 tahun yang lalu, pertanian muncul bersama dengan alat dan tembikar yang dibuat dalam gaya populasi Cina Selatan. Akan tetapi, tidak ada yang dapat memastikan terkait apakah ide pertanian muncul bersamaan dengan migrasi orang-orang Cina Selatan dengan ditemukannya peralatan mereka.

Bastien Llamas, ahli paleogenetik University of Adelaide, Australia, yang tidak terlibat dalam penelitian ini mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi?

“Apakah  para petani datang dari tempat lain, membawa teknologi baru ini bersama mereka? Atau apakah itu difusi budaya, jadi para pemburu-pengumpul perlahan belajar dan beradaptasi dengan cara-cara baru untuk menjadi petani?” tanya Llamas.

Baca Juga:  Dorong Koperasi Tani, Kementan Harapkan Kesejahteraan Petani

Untuk mengetahuinya, Profesor Oxenham dan rekan-rekannya memeriksa DNA yang diambil dari sisa-sisa manusia yang ditemukan di lima situs Asia Tenggara kuno. Usia spesimen berkisar dari 4.100 tahun yang lalu, selama periode Neolitik hingga Zaman Besi, 1.700 tahun yang lalu. Tetapi mengekstraksi informasi genetik dari sampel lama seperti itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.

Salah satu kendala DNA lebih cepat hancur adalah iklim panas dan lembap yang ada di Asia Tenggara. Beruntung para ahli genetika tidak membutuhkan keseluruhan genom, namun hanya beberapa bagian khusus. Dari 146 tulang manusia purba, para peneliti mampu mengekstrak dan membagi menjadi 18 kelompok.

Saat ahli membandingkan DNA Asia Tenggara kuno dengan yang berasal dari daerah sekitarnya, mereka menemukan tanda genetik asing yang berasal dari Cina Selatan. Jadi, mungkin para petani dari Cina perlahan menyebar melalui Asia Tenggara antara 4.100 hingga 4.500 tahun yang lalu, yakni dengan membawa bahasa mereka dan teknologi pertanian seperti pembuatan alat dan tembikar.

Beberapa ribu tahun kemudian, masuknya para petani Cina Selatan lainnya dengan membuat perjalanan yang sama, dibuktikan oleh denyut gen yang berbeda yang mengalir ke Asia Tenggara.

Menurut Profesor Oxenham, percampuran genetik antara migran dengan penduduk asli menciptakan keragaman seperti yang terlihat. Ada Thailand, Malaysia, Vietnam, Indonesia, Filipina, dan sebagainya.

loading...
loading...