Atasi Kelangkaan Alkohol dengan Molases Tebu

Pertanianku Alkohol menjadi salah satu bahan yang dibutuhkan di tengah pandemi Covid-19 untuk mensterilkan perlengkapan serta sanitasi. Salah satu alkohol yang biasa digunakan adalah bioethanol yang terbuat dari sumber gula, sumber pati, dan sumber erat (lignoselulosa). Molases tebu merupakan produk sampingan yang didapatkan dari industri gula dan masih bisa dimanfaatkan karena masih mengandung gula.

alkohol
foto: pixabay

Jumlah molases tebu sangat banyak karena pemanfaatannya yang masih minim. Hal ini bisa menjadi peluang untuk mengubah molases dengan biokonversi menjadi etanol. Molases memiliki kadar gula yang cukup gula, yaitu lebih dari 50 persen. Dilansir Kementerian Pertanian Badan Litbang Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) sudah menemukan cara membuat bioethanol dari molases tebu.

Proses pembuatannya cukup mudah dan sederhana. Kepala Balai Besar Litbang Pasca Panen Pertanian (BB Pasca Panen) Dr. Prayudi Syamsuri mengatakan bahwa proses pembuatannya hanya dua tahap, yaitu fermentasi dan destilasi.

Loading...

“Pembuatan bioethanol dari molases hanya perlu melewati dua tahap, yakni fermentasi dan destilasi karena molases merupakan jenis bahan gula,” kata Prayudi.

Proses fermentasi pada pembuatan bioethanol menggunakan mikroorganisme Saccharomyces cerevisiae. Mikroorganisme ini bisa memecah bahan berkarbohidrat menjadi etanol dan karbondioksida. Penggunaan mikroorganisme ini para proses fermentasi harus dilakukan pengondisian kadar gula pada awalnya.

Kadar gula yang digunakan untuk fermentasi tidak melebihi 20 persen. Jika kadar gula berlebih, dapat menghambat aktivitas khamir dan proses produksi bioethanol tidak sempurna. Kadar gula yang terlalu tinggi di awal akan mengakibatkan waktu fermentasi menjadi lebih lama dan terdapat kemungkinan tidak semua kandungan gula bisa diubah menjadi alkohol. Fermentasi yang dilakukan pada suhu ruang akan berlangsung selama 24, 48, atau 72 jam setelah ditambahkan urea dan ragi.

Baca Juga:  KKP Siapkan Beberapa Strategi untuk Mencegah Penyakit AHPND pada Udang

Setelah proses fermentasi berakhir, proses langsung dilanjutkan ke tahap destilasi selama 3—4 jam. Balitbangtan sudah menghasilkan alkohol. Hasil rendeman bioethanol yang dihasilkan cukup tinggi, yaitu sekitar 40—45 persen dengan kadar alkohol di atas 90 persen dengan 1 kali proses destilasi. Penggunaan molases tebu menjadi alkohol juga sudah dilakukan oleh BB Pasca Panen untuk memproduksi hand sanitizer dan disinfektan.

 

 

 

 

 

 

 

Loading...
Loading...