Badan Pengelola Dana Kopi untuk Riset dan Pengembangan Komoditas Kopi


Pertanianku — Belakangan ini kopi menjadi komoditas yang cukup banyak dibicarakan, baik di tingkat nasional maupun global. Seringkali kopi-kopi Indonesia menyabet penghargaan sebagai kopi terbaik di dunia. Tentunya, kualitas kopi Indonesia tidak kalah bersaing dengan kopi dari Negara lain. Oleh karena itu, pemerintah mewacanakan untuk membentuk Badan Pengelola Dana Kopi untuk riset dan pengembangan komoditas kopi Indonesia.

komoditas kopi
Foto: Pixabay

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, gagasan membentuk badan tersebut mengacu pada kelembagaan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit yang sudah ada terlebih dahulu.

“Kami memang berusaha untuk ada semacam BPDP di kelapa sawit, tapi ya karena kopi itu harganya cukup baik, ini masih perlu diajak ngobrol pihak-pihak terkaitnya,” jelas Darmin seperti dikutip dari CNNIndonesia beberapa waktu lalu.

Pembentukan badan ini menurut Darmin bukan gagasan baru. Ia juga mengakui bahwa pembentukan badan ini nantinya akan menemui kendala karena sebagian besar produsen kopi adalah petani rakyat.

Berdasarkan data yang ada, areal kebun kopi di Indonesia saat ini mencapai 1,25 juta hektare yang terdiri atas lahan kopi robusta seluas 0,91 juta hektare dan kopi arabika seluas 0,34 juta hektare. Dari data tersebut, sebanyak 96—96,5 persen lahan kedua jenis kopi dimiliki oleh petani.

“Ini tidak mudah juga. Pokoknya pemerintah mencoba mencari jalan nanti duduk dengan eksportir hingga perusahaan yang ada,” ujar Darmin.

Menurut Darmin keberadaan Badan Pengelola Dana Kopi ini sangat penting karena potensi kopi Indonesia sudah mampu bersaing dengan negara lain dan sudah diakui dunia. Hingga saat ini terdapat 21 varietas kopi di Indonesia, tetapi produksinya masih rendah. Nah, badan inilah yang nantinya akan melakukan riset dan pengembangan untuk meningkatkan produktivitas kopi.

Baca Juga:  Cara Mudah Budidaya Tanaman Kacang Koro Bagi Pemula

Berdasarkan data, produksi kopi robusta hanya 0,53 ton per hektare, sedangkan potensinya mampu mencapai 2 ton per hektare. Adapun produksi kopi arabika baru mencapai 0,55 ton per hektare, sedangkan potensi maksimalnya bisa 5 ton per hektare.

Tingkat produksi yang masih rendah juga dipengaruhi oleh butuhnya peremajaan bagi tanaman kopi. Gambaran idealnya diperlukan peremajaan sebanyak 4 persen dari luas kebun kopi, atau seluas 34.866 hektare untuk kopi robusta dan 13.090 hektare untuk jenis arabika.

Kini, kebun kopi yang perlu diremajakan sudah terlampau luas akibat peremajaan yang terlambat. Untuk robusta sudah mencapai 103.559 hektare dan arabika seluas 37.012 hektare.

“Rendahnya produktivitas menyebabkan petani mendahulukan hidup keluarga kemudian yang menjadi pilihan yang mau tidak mau ditempuh oleh petani. Makanya, kami akan mendorong research di bidang itu, bagaimana budidaya kopi yang benar,” jelas Darmin.

Sebagai informasi menurut data International Coffee Organizzation (ICO), produksi kopi Indonesia pada 2017 mencapai 10,9 juta karung kopi 60 kilogram (kg) atau setara 654.120 ton. Angka ini terbilang menurun ketimbang tahun sebelumnya, yakni 689.460 ton.