Begini Gaya Menteri Susi Lindungi Ikan Tuna Sirip Kuning


Pertanianku – Sikap tegas yang dimiliki oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dalam usaha memperjuangkan kelestarian sumber daya ikan dan juga lingkungan di laut Indnesia patut dibanggakan. Menteri Susi turut mencanangkan upaya perlindungan untuk populasi ikan tuna sirip kuning serta terumbu karang dari maraknya pemakaian bom ikan.

“Kita akan terus melindungi daerah pemijahan dan daerah bertelur sumber daya tuna di Wilayah Pengelolaan Perikanan Potensial (WPP) 714,” jelas Menteri kelahiran Pangandaran ini, seperti dilansir dari Liputan6.

WPP 714, ia menuturkan, berada di Laut Banda. Kawasan ini merupakan tempat kelahiran 68 persen ikan tuna di dunia. Oleh karena itu, Laut Banda masuk dalam area konservasi KKP untuk menjaga laut sebagai masa depan bangsa.

“Kita proteksi wilayah 714 di Laut Banda, karena suplai 68 persen bibit tuna di dunia. 68 persen ikan tuna sirip kuning dilahirkan di Laut Banda, sehingga tidak boleh ada kapal ikan purse seine atau jaring. Kalau sampai ada, berarti terjadi pelanggaran terhadap wilayah konservasi,” tambahnya.

Jika kapal jaring atau purse seine berkeliaran di Laut Banda, Susi bilang, habislah tuna sirip kuning di Indonesia. Hal itu pun akan mengancam suplai ikan yang termasuk salah satu ikan paling mahal harganya.

“Kalau di Laut Banda ada kapal jaring besar, selesai lah tuna di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Karena 68 persen suplai yellow fin dari sana,” tegasnya.

Di samping itu, Susi menyebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan sudah memberikan 237 unit penggantian alat tangkap yang dilarang. Tujuannya, menjaga terumbu karang rusak akibat penggunaan alat tangkap berbahaya.

“Kita juga sungguh-sungguh memerangi bom ikan. Bareskrim membentuk divisi khusus di Sulawesi, NTB, dan NTT, serta Nias dan Mentawai untuk menjaga kerusakan bawah laut dari destructive fishing,” ujarnya.

Baca Juga:  Kementan Tanam Bawang Putih di Tiga Lokasi Secara Serempak

Lebih lanjut Susi mengatakan, “Bom ikan merusak karang-karang di wilayah Bali, sekitar Kangean, Teluk Kendari, Kolaka, NTT, bahkan sudah mendekati Raja Ampat.”

loading...
loading...