Bermodalkan Bambu, Pria Ini Sukses Budidaya Kerang Hijau


Pertanianku – Kerang hijau merupakan salah satu komoditas perikanan yang permintaannya cukup banyak. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya restoran seafood yang menyajikan menu kerang hijau. Jika dulu kerang hijau hanya bisa didapatkan dari hasil melaut, kini kerang hijau bisa dibudidayakan.

Kerang sendiri adalah salah satu hasil laut yang banyak ditemukan di pasaran. Menurut para ahli gizi, kerang merupakan makanan bernutrisi tinggi yakni mengandung protein tinggi asam amino serta asam lemak omega-3 yang baik untuk kesehatan jantung.

Hal tersebut karena peluang usaha yang cukup menjanjikan yang bisa dilakukan di pesisir laut. Untuk itulah, banyak nelayan kini beralih profesi sebagai pembudidaya kerang hijau.

Jika Anda merasa tertarik untuk membuddiayakan kerang hijau, modal yang dikeluarkan juga terbilang cukup terjangkau.

Seperti halnya yang dialami salah satu petambak kerang hijau asal Kelurahan Dadap Kecamatan Kosambi Tanggerang, Banten, bernama Mustafa. Pria berusia 50 tahun ini sukses membudidayakan kerang hijau bermodalkan beberapa ruas bambu yang ia jadikan tambak dan bibit kerang.

Kini Mustofa sudah terampil melubangi bambu dan membuat lubang-lubang seperti sarang tawon. Bambu yang dibuat simetris membuat air laut mudah masuk.

Mustafa merupakan salah satu dari banyak petani tambak kerang hijau di Kelurahan Dadap. Menurutnya, menjadi petani tambak kerang hijau lebih menguntungkan daripada melaut.

“Menjadi penambak sudah lama sekitar lima tahun, lebih untung daripada mencari ikan,” ujar Mustafa.

“Kalau kita menangkap ikan enggak bisa diukur (pendapatannya), bisa banyak bisa sedikit. Kalau kerang bisa diukur dan ada kepastian,” lanjutnya.

Sebenarnya Mustafa mengaku tidak berniat untuk menjadi petani tambak kerang hijau. Tidak adanya perahu pribadi menjadi kendala utama yang dihadapinya. Saat itu pun dia dalam keadaan duka karena anaknya dipanggil Tuhan Yang Maha Kuasa. Dia hanya tinggal bersama istrinya.

Baca Juga:  Mendag Kritik Masyarakat Indonesia yang Konsumsi Ikan Olahan Impor

“Ia tidak punya perahu sendiri,” tutur Ali, keponakan Mustafa yang membantu mengelola tambak.

Seperti petani tambak lainnya, Mustafa tidak bekerja sendiri. Dia dibantu lima orang rekannya termasuk Ali.

Ia mengurus segala keperluan tambak. Dari penanaman bibit tambak, perakitan bangunan tambak dan merenovasi bangunan tambak.

Lebih lanjut Mustafa bercerita, menjadi petani tambak kerang sangat tergantung pada tengkulak. Sosok tengkulak dibutuhkan untuk menjual kerang hijau yang masih segar. Jika tidak ada tengkulak, kerang yang didapat akan sulit dijual ke pasar karena membutuhkan waktu yang cukup lama.

Kerang hijau hanya bertahan semalam setelah dipanen. Oleh karena itu, ia harus dengan sigap menjual hasil tangkapannya itu atau tidak akan mendapatkan uang karena tengkulak hanya menerima kerang yang masih tertutup.

“Sekarang lebih untung jual ke tengkulak. Sangat berisiko kalau jual sendiri karena kerangnya sudah terbuka,” jelas Mustafa. Namun, dalam penjualan ia juga perlu tahu kisaran harga yang berlaku saat ini.

Meski di pinggir laut, bangunan yang dibuat Mustafa dan rekanya tetap kokoh berdiri melawan arus yang bergulung. Bangunan menyerupai rumah itu dibuat hampir 100 titik dengan ukuran 15 × 8 meter.

Februari adalah bulan di mana petani tambak menyemai bibit kerang hijau di tambak mereka. Hingga lima bulan ke depan mereka baru bisa mendapatkan hasil kerang yang optimal. Kesabaran besar diperlukan dalam menunggu dan merawat tambak sampai bulan Juni.

“Tangkapan kerang kalau bulan Juni bisa sampai Rp5 juta, tapi kalau bulan lainnya cuma Rp2 hingga Rp3 juta karena hanya sisa- sisa panen,” ungkapnya.

loading...
loading...