Beternak Ayam di Lahan Sempit, Kenapa Tidak?

0

Pertanianku – Seorang pria bernama Arman Sitorus memutuskan memanfaatkan lahan sempit di pekarangan rumahnya dengan beternak ayam. Ide ini mulcul karena melihat limbah nasi katering di sekitar tempat tinggalnya yang terbuang percuma dan dimanfaatkanlah oleh Arman biasa ia disapa untuk pakan ayam ternaknya.

Idenya tersebut berbuah manis takala hobi sedari kecilnya ia aplikasikan, memelihara ayam. Arman pun lantas membeli sepasang ayam kate di Pasar Pramuka, Jakarta Timur seharga Rp600 ribu per pasang.

“Harga Rp 600 ribu pada waktu tahun 2009 menurut saya sudah mahal,” kata Arman.

Namun, berkat pasokan pakan yang melimpah, sepasang ayam kate yang dibeli Arman pun mulai berkembangbiak dan beranak pinak. Yang tadinya hanya sekadar hobi, dilanjutkan Arman dengan serius. Nilai penjualan ayamnya semakin meningkat. Dan, kini usaha ternak ayam bagi Arman merupakan usaha utama yang lebih berprospek dari usaha sebelumnya.

Uniknya, dan merupakan terobosan baru di dunia peternakan, Arman memanfaatkan gedung ruko sebagai lokasi pembibitan dan penetasan DOC (Day Old Chick). Sebuah hal yang tak lazim dilakukan para peternak ayam kebanyakan.

Arman menambahkan, usaha ternak ayam tak perlu melulu membutuhkan lahan yang luas. Toh, dirinya bisa memanfaatkan ruko berlantai 3 seluas 30 × 30 m untuk disulap menjadi kandang ayam di daerah Klender, Duren Sawit Jakarta Timur.

Untuk meredam bau tak sedap dan kebisingan yang ditimbulkan dari kokokan ayam, Arman memiliki cara jitu yang secara sukarela ia bagikan kepada siapa saja yang ingin memulai usaha peternakan ayam.

“Usaha ini sebenarnya sangat cocok untuk para pensiunan karena bisa dilakukan di lahan sempit, bisa disambi dan tak harus dipantau secara ketat,” tambahnya.

Karena kegigihannya, lambat laun Arman pun berhasil menciptakan mesin tetas telur dan menerapkan cara inseminasi buatan (kawin suntik) dengan sistem pemeliharan yang diatur sedemikian rupa sehingga bisa dipanen setiap hari atau biasa disebut oleh Arman sebagai teknik simultan breeding.

“Bagi siapapun yang ingin belajar ternak ayam, silakan datang ke tempat saya, akan saya beritahu secara gambling,” jelas Arman.

Berbicara prospek usaha, Arman mengatakan bahwa setiap tahunnya tren permintaan ayam berbeda-beda. Namun, tetap cerah asalkan jeli melihat kebutuhan pasar.

“Dalu yang naik daun adalah ayam kate, lantas ayam serama. Tidak lama kemudian booming ayam ketawa pada 2011, hingga pada akhirnya kini permintaan lebih banyak kepada ayam komersil (pedaging),” ungkap Arman yang mengaku belajar beternak ayam secara otodidak.

Berubah-ubahnya permintaan pasar tersebut, pun membuat Arman kini juga menernakkan ayam serama, kate, ayam ketawa, dan ayam bangkok kendati porsi yang diternakkan lebih banyak ayam pedaging untuk konsumsi.

Dengan segala hasil inovasi yang dilakukannya, kini dalam sehari Arman pun bisa mengirim sedikitnya 40 ekor ayam siap konsumsi ukuran 1,2 kg seharga Rp35.000—Rp40.000 per ekor ke beberapa pasar tradisional di Jakarta.

“Meski pasokan tergolong kecil tapi perputaran uangnya cepat,” tutup Arman.

loading...
loading...