Biaya Produksi Beras Indonesia Paling Tinggi di Asia

Pertanianku – Di Indonesia beras merupakan makanan pokok hampir seluruh masyarakat. Bahkan, Indonesia terkenal memiliki lahan pertanian yang sangat luas. Namun, biaya produksi beras di Indonesia nyatanya paling tinggi di antara beberapa negara produsen beras di Asia, yaitu sekitar 0,369 dolar AS.

“Selama ini yang kita ekspor adalah beras organik atau beras premium. Sedangkan beras medium kemungkinan kecil karena tingginya biaya produksi,” ungkap Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB, Rina Nurmalina, di Bogor, seperti melansir Antaranews (24/5).

Lima negara produsen beras di Asia, yakni Tiongkok hanya menghabiskan biaya produksi sebesar 0,331 dolar AS, Filipina 0,292 dolar, lalu India hanya 0,209 dolar AS, dan Thailand sebesar 0,208 dolar AS, serta yang terendah adalah Vietnam 0,154 dolar AS.

“Produktivitas beras Indonesia ketiga setelah Vietnam dan Cina. Vietnam memiliki biaya produksi paling rendah, maka itu kenapa mereka bisa ekspor berasnya,” ungkap Rina.

Ia menjelaskan, efisiensi usaha tani di Indonesia masih rendah dibanding negara produsen padi lainnya. Upaya peningkatannya, yakni dengan meningkatkan produktivitas atau mengurangi input-input produksi yang berlebih.

Lebih lanjut Rina mengatakan, biaya tinggi tersebut sebagian disumbang dari tingginya biaya tenaga kerja, terutama saat panen dan biaya sewa lahan. Di negara lain berhasil menekan biaya tenaga kerja karena menggunakan mesin, terutama saat panen.

“Karena ada budaya gotong royong jadi Indonesia belum bisa menekan biaya produksi ini, ditambah luas tanah yang terkotak-kotak,” ucapnya.

Rina mengatakan, penelitian yang dilakukan oleh PSEKP mengungkapkan, pendapatan usaha tani padi di Indonesia dilihat dari berbagai daerah, berbagai jenis luas lahan, berbagai jenis padi dan berbagai jenis pengelolaan, masih positif atau menguntungkan dengan R/C berkisar antara 2,35 sampai 2,65.

Tetapi lanjutnya, kendala yang dihadapi, penyediaan beras untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri masih menghadapi masalah. Seperti, konversi lahan sawah di Pulau Jawa, pertumbuhan produksi dan produktivitas padi yang melambat dan keterbatasan sumber daya manusia.

loading...
loading...