Bijak Menggunakan Antimikroba untuk Mencegah Resistensi

Pertanianku — Kementerian Pertanian (Kementan) baru saja menggelar Pekan Kesadaran Antimikroba Dunia yang diselenggarakan pada 18—24 November 2020. Dalam kesempatan tersebut, Kementan berkomitmen untuk mengontrol penggunaan mikroba pada hewan ternak unggas untuk mencegah terjadinya resistensi antimikroba.

resistensi antimikroba
foto: Pixabay

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Nasrullah mengingatkan betapa pentingnya peran segala pihak untuk mencegah terjadinya resisten antimikroba, khususnya pada peternakan unggas yang bersinggungan langsung dengan antimikroba.

Nasrullah mengimbau kepada peternak untuk lebih bijak dalam menggunakan antimikroba dan mulai mengurangi pemakaian antibiotik secara berlebihan, khususnya pada hewan ternak konsumsi.

“Maka dari itu, secara khusus kami berharap kepada peternak unggas untuk ikut berperan dalam mengatasi resistensi antimikroba dengan menggunakan antibiotik atau antimikroba secara bijak,” tutur Nasrullah seperti dikutip dari laman ditjennak.pertanian.go.id.

Dalam beberapa tahun terakhir dilaporkan ada peningkatan laju resistensi antimikroba. Laju tersebut tidak diiringi dengan pengembangan jenis antibiotik yang terbilang berjalan dengan sangat lambat.

“Dengan kata lain, pola peningkatan laju resistensi sudah berbanding terbalik dengan penemuan obat antimikroba baru,” ujar Nasrullah.

Kondisi tersebut menyebabkan perkembangan resistensi antimikroba menajdi isu global yang dibahas dalam berbagai forum internasional. Pasalnya, kondisi tersebut dianggap sebagai suatu masalah yang sangat serius dan harus diatasi bersama-sama.

Resistensi antimikroba dalan dunia peternakan merupakan ancaman yang nyata dan bisa mengganggu kesehatan hewan yang berkelanjutan dan keberlangsungan ketahanan pangan.

Jika permasalahan ini tidak ditangani dengan serius, kejadian resistensi antimikroba diprediksi akan menjadi pembunuh nomor 1 di dunia pada 2050 mendatang dengan tingkat kematian yang bisa mencapai 10 juta jiwa per tahun. Diprediksikan jumlah kematian tertinggi akan terjadi di kawasan Asia.

Saat ini Indonesia turut andil merealisasikan Rencana Aksi Global untuk mengendalikan resistensi antimikroba. Pemerintah juga sudah menerbitkan beberapa peraturan untuk mencegah terjadinya resisten, seperti melarang penggunaan antibiotik di bidang peternakan dan kesehatan hewan serta pelarangan penggunaan antibiotik sebagai imbuhan pakan (antibiotic growth promoter).

Baca Juga:  Langkah Mudah Budidaya Ulat Sutera

Langkah lain yang diambil oleh Kementan untuk mencegah terjadinya resistensi adalah meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat serta peternak unggas.


loading...