Biogas dari Jerami


Pertanianku – Tanaman padi merupakan salah satu komoditias pertanian yang menghasilkan limbah. Menurut Nursyamsi et al., (1996) tanaman padi menghasilkan limbah berupa jerami sebanyak 3,0—3,7 ton/ha. Sebagai gambaran, pada tahun 1997, luas panen padi di Indonesia mencapai 11.140.594 ha (Biro Pusat Statistik, 1999) sehingga potensi jerami pada tahun tersebut sebesar 33.421.782 ton jerami. Hal ini menunjukkan betapa besar produksi jerami tanaman padi dan betapa potensial bahan tersebut untuk dimanfaatkan kembali; baik untuk bahan baku biogas, mulsa, kompos, makanan ternak, dan media untuk pertumbuhan jamur.

Biogas dari Jerami

Umumnya jerami padi dibakar petani setelah memanen padi, atau sebelum mengolah lahan untuk musim tanam berikutnya. Hanya sebagian kecil petani yang sudah memanfaatkan jerami tersebut untuk mulsa atau dibuat kompos. Pembakaran tersebut menghasilkan gas CO2 dan asap yang berbahaya terhadap kesehatan petani itu sendiri dan masyarakat di sekitarnya.

Jerami padi dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas dengan cara memfermentasikannya dalam tangki yang hampa (anaerob). Setiap 1 kg jerami padi dapat menghasilkan 0,20—0,38 m3 biogas. Energi yang dihasilkan biogas dapat untuk memasak, penerangan, dan pendinginan penggerak motor. Energi dari 1 m3 biogas dapat digunakan untuk menjalankan mesin 1 pk selama 2 jam; menyediakan listrik 1,25 kWh; menyediakan energi untuk memasak makan 3 kali sebanyak 5 orang per hari; memberikan penerangan yang setara dengan 60 watt selama 6 jam; menghidupkan kulkas selama 1 jam. Jumlah biogas yang digunakan dalam beberapa pemakaian tertentu dapat dilihat pada Tabel 9. Proses pembuatan biogas dengan bahan dasar jerami padi yaitu dengan cara memasukkan jerami padi dan kotoran sapi ke dalam tangki pencerna sebanyak 8 kg bahan kering dengan perbandingan antara jerami padi dan kotoran sapi 2 : 1. Selanjutnya dilakukan penambahan air sehingga kadar air substrat menjadi 90%. Proses fermentasi dilaksanakan 35 hari. Setiap lima hari, sebelum dilakukan pemakaian, dilakukan pengadukan agar seluruh substrat tercampur sempurna dan terbentuknya kerak (scum) akan terhindar. Pengadukan dilakukan dengan cara menggerakkan bandul besi di dalam digester melalui tali penghubung yang terbuat dari kawat baja.

Baca Juga:  Sampah Sayur Dijadikan Starter Mikroorganisme? Tentu Bisa!

 

Sumber: Buku Paduan Praktis Biogas

loading...
loading...