Bioherbisida, Pengendali Gulma Ramah Lingkungan

Pertanianku Bioherbisida merupakan semua jenis organisme hidup yang berfungsi mengendalikan gulma atau tumbuhan liar yang hidup di sekitar tanaman utama. Tanaman tersebut dapat mengganggu karena menimbulkan persaingan dengan tanaman utama. Kompetisi yang terjadi adalah perebutan unsur hara, cahaya, tempat tumbuh, dan air. Selain itu, gulma yang biarkan tumbuh dapat menghasilkan cairan tertentu yang bisa mematikan tanaman di sekitarnya atau tanaman utama.

bioherbisida
Foto: Pixabay

Di Indonesia, keberadaan gulma masih belum dilihat sebagai masalah yang serius di sektor pertanian. Namun, bagi sektor perkebunan, keberadaan gulma menjadi masalah yang sering menghambat karena dapat menurunkan produktivitas.

Pengendalian gulma pada awalnya dilakukan secara konvensional atau klasik. Misalnya, di Afrika Selatan, gulma dikendalikan dengan melepas serangga jenis Trichapion lativentre yang didatangkan dari daerah lain. Di Amerika, gulma kaktus dikendalikan dengan melepas penggerek Melitara dentata.

Pengendalian gulma dengan menggunakan serangga dianggap rumit karena banyak faktor ekologi lingkungan yang berpengaruh. Meskipun demikian, hingga saat ini penelitian pengendalian gulma dengan serangga masih terus berlanjut.

Dalam pengembangannya, kini biofungisida mulai dikembangkan dari mikroorganisme yang bersifat pathogen pada tanaman. Mikroorganisme yang dipilih dan dikembangkan sudah tentu spesifik dengan target bagi tiap jenis gulma.

Penggunaan mikroorganisme pathogen sebagai herbisida karena kebanyakan mikroorganisme pathogen pada tanaman bersifat inang spesifik. Selain itu, mikroorganisme ini tidak menimbulkan pengaruh buruk bagi manusia atau binatang. Mikroorganisme ini diketahui mampu memusnahkan gulma dengan baik, tetapi belum pernah ditemukan kasus musnahnya suatu jenis tanaman karenanya.

Penelitian dan pengembangan bioherbisida saat ini banyak dilakukan di Amerika dan beberapa negara Asia. Di Indonesia, penggunaan bioherbisida masih kurang mendapatkan perhatian karena kasus yang lebih sering terjadi disebabkan oleh serangan hama dan penyakit.

Baca Juga:  Kiat Budidaya Cabai Bebas Penyakit

Sementara itu, di Amerika, kehilangan produksi budidaya tanaman palawija karena gulma bisa mencapai 11–21 persen atau senilai USD32 miliar. Jika tidak ada pengendalian gulma, total kerugian finansial yang bsia dirasakan petani mencapai USD267 miliar per tahun. Di Filipina, gulma dapat menyebabkan kerugian hingga mencapai 16–100 persen.