Sekilas Tentang Biologi Sugar Glider

Pertanianku – Sugar Glider (SG) memiliki wujud hampir sama dengan tupai, perbedaannya terletak pada bentuk moncongnya. Tupai memiliki moncong yang relatif panjang, sedangkan SG cenderung pesek. Ekor panjang yang dimiliki SG berfungsi untuk menjaga keseimbangan dan kelincahan saat berakrobat dari pohon ke pohon. Panjang tubuhnya sampai ekor mencapai 24—30 cm. Ukuran tubuhSG jantan pada umumnya lebih besar dibandingkan dengan SG betina. Ciri khas lain dari SG jantan y akni memilikimotif “pitak” di bagian kepala dan Dadanya . Pada keempat kakinya, SG memiliki lima buah jari yang dilengkapi dengan cakar, kecuali pada jari pertama di kedua kaki belakangnya.

Biologi Sugar Glider

Jari kedua dan ketiga pada kaki belakang secara normal memang bersatu (sindaktilus) sehingga pemilik tidak perlu bingung jika menemukan kondisi ini. SG memiliki rambut yang tebal dan lembut. Warnanya juga bervariasi, biasanya berwarna kelabu, kecokelatan, kekuningan, tan, atau albino. Corak berbentuk garis hitam biasanya tampak pada bagian tengah hidung hingga belakang kepala. Adapun bagian perut, leher, dan dadanya berwarna krem.

Sepasang patagium pada  tubuhnya merupakan ciri khas dari SG. Patagium merupakan suatu membran atau selaput yang cukup tebal dan memanjang dari jari kelima di kaki depan hingga jari pertama di kaki belakang. Saat SG merentangkan kakinya, selaput ini dapat digunakan untuk meluncur dari pohon ke pohon lainnya. Setiap individu SG memiliki kelenjar penghasil bau yang khas. Pada tubuhSG, terdapat empat buah kelenjar yang masing-masing terletak di bagian dahi, dada, serta dekat kloaka. Bau-bauan spesifik yang dihasilkan dari kelenjar ini berfungsi untuk menandai daerah kekuasaannya, biasanya digunakan oleh SG jantan. Kelenjar bau yang ada di dahi, dapat terlihat sebagai “pitak” pada SG jantan dewasa. Sementara itu, ciri pada SG betina adalah adanya organ ‘marsupium’ (kantong) di bagian tengah perutnya. Kantong ini berfungsi untuk merawat joey-joey (anakan SG) yang baru lahir.

Baca Juga:  Kenal Lebih Jauh dengan Cucakrawa Asal Medan

Di habitat alaminya, SG berkembang biak sekali dalam setahun karena pengaruh iklim dan kondisi habitatnya. Sementara itu, seekor SG betina dapat beranak hingga empat kali dalam setahun. Induk betina akan mengalami masa kebuntingan selama 16 hari. Selanjutnya, bayi SG yang baru lahir akan merangkak ke marsupium induk.

Mata bayi SG akan tetap tertutup hingga umur 12—14 hari. Selama itu, tubuh bayi SG akan berkembang selama berada di dalam kantong tersebut. Rambut di tubuhnya mulai tumbuh dan terjadi penambahan ukuran tubuh secara bertahap hingga akhirnya siap keluar dari kantong induk. Usia kematangan seksual SGberbeda-beda antara jantan dan betina. SG Jantan mencapai kematangan  antara 6—12 bulan, sedangkan betina antara 8—12 bulan. Ciri khas yang menunjukkan seekor SG telah mencapai kematangan seksual adalah pola pitak di dahi tempat kelenjar bau berada.


loading...