Bisnis Suvenir Tanaman, Keuntungannya Menggiurkan!


Pertanianku Bisnis suvenir tanaman kini menjadi tren bisnis masa kini yang cukup menggiurkan. Seperti yang dilakukan oleh Faldi Adisarjana di Bandung, Jawa Barat.

bisnis suvenir tanaman
Foto: Shutterstock

Baginya, bisnis suvenir tanaman ini bisa menjadi ladang penghasil pundi-pundi rupiah. Ia memilih bisnis suvenir bola lumut alias kokedama. Awalnya, target pasar dari kokedama tersebut ialah anak-anak.

“Tetapi seiring waktu, konsumen dewasa pun menggemari kokedama,” katanya seperti dikutip dari Majalah Trubus.

Itu karena penampilan kokedama milik Faldi ini memang unik. Ia menyulap kokedama sedemikian rupa menjadi sosok boneka lengkap dengan mata, mulut, tangan, dan kaki. Penampilan kokedama semakin menarik dengan tambahan aneka tanaman seperti echeveria, sansevieria, haworthia, cryptanthus, anggrek, dan poinsettia.

Seluruh bahan baku ia pasok dari petani tanaman hias di Lembang. Faldi membanderol boneka kokedama dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp110 ribu sampai Rp430 ribu. Setahun terakhir, ia berhasil menjual 500 kokedama setiap bulan.

Sama halnya dengan Erik Arianto, pemilik nurseri yang juga tak kalah repot melayani pesanan konsumen yang riuh melalui ponsel yang dimilikinya. Erik memilih menjadi pengusaha suvenir tanaman hias sudah sejak 10 tahun silan dan terbukti tokcer karena produk buatannya laris di pasaran.

Dalam sebulan, pemilik nurseri Erik Kaktus di Lembang, Bandung, ini menjual rata-rata 15 ribu kaktus dan sukulen. Ia menjual suvenir dengan harga Rp5.250 per tanaman atau omzetnya sekitar Rp78 juta per bulan.

Erik menuturkan, harga jual itu masih menguntungkan setelah dikurangi biaya produksi Rp3.500 per tanaman, ia meraup laba Rp1.750 tanaman atau total Rp26 juta.

Pada bulan-bulan yang ramai pernikahan, seperti bulan Dzulhijjah, ia bisa menerima lonjakan permintaan hingga 20 ribu suvenir. Saking banyaknya pesanan, Erik terpaksa menerapkan daftar tunggu bagi calon pembeli.

Baca Juga:  Wow! Atap Gedung di Negara Ini Jadi Lahan Pertanian

“Konsumen harus memesan 3—6 bulan sebelumnya jika ingin membeli suvenir di atas 250 pot,” katanya seperti dikutip dari Majalah Trubus.