BPS: Pakan, Biaya Terbesar pada Budidaya Ikan Lele

0

Pertanianku – Indonesia memang terkenal sebagai penghasil ikan lele yang melimpah. Pasalnya, banyak pembudidaya tertarik menjalankan usaha budidaya ikan lele ketimbang jenis ikan lainnya. Namun, menurut hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) Riau, biaya produksi terbesar menjalankan budidaya lele adalah pembelian pakan.

“Biaya terbesar yang dikeluarkan adalah untuk pakan, yaitu mencapai Rp2,66 juta atau 49,92 persen dari seluruh biaya yang dikeluarkan per hektare,” kata Kepala BPS Riau, Mawardi Arsyad, di Pekanbaru, belum lama ini seperti mengutip Antaranews (9/5).

Bisnis perikanan lele berpotensi meraih laba Rp2,41 juta per hektare, dengan biaya produksi sebesar Rp5,33 juta atau 68,84 persen terhadap nilai produksi.

Lebih lanjut Mawardi mengungkapkan bahwa biaya untuk benih atau bibit ikan sebesar Rp1,06 juta atau 19,83 persen, pupuk dan obat sekitar 0,4 persen, alat 1,41 persen, sewa lahan 18,99 persen, dan sisanya untuk biaya upah pekerja.

Selain budidaya ikan lele, juga terdapat budidaya terhadap ikan lainnya, yaitu ikan nila dan patin.

“Untuk budidaya nila jumlah biaya per hektarenya sebesar Rp1,48 juta atau 56,77 persen terhadap nilai produksi dan keuntungan yang diperoleh sekitar Rp1,12 juta atau sebesar 76,11 persen. Biaya terbesar dikeluarkan untuk pakan, yaitu mencapai 55,49 persen dari seluruh biaya yang dikeluarkan atau sekitar Rp 819,59 ribu” ungkapnya.

Sementara itu, jumlah biaya per hektare untuk budidaya patin senilai Rp3,54 juta, yaitu 69,32 persen terhadap nilai produksi dengan perolehan keuntungan sebesar Rp1,57 juta atau 44,3 persen.

“Sama halnya dengan budidaya lele dan nila, biaya terbesar dikeluarkan untuk pakan,” tambahnya.

Survei rumah tangga usaha budidaya ikan pada 2014 merupakan salah satu kegiatan dalam pelaksanaan ST2013 lanjutan. Kegiatan ini bertujuan mendapatkan data statistik subsektor budidaya ikan yang akurat dan berupa gambaran yang jelas tentang usaha budidaya ikan.

Survei dilaksanakan di seluruh provinsi pada Mei hingga Juli 2014 lalu. Jumlah sampel Provinsi Riau sebanyak 1.525 rumah tangga, kemudian jumlah sampel usaha budidaya pembesaran lele, nila, dan patin, masing-masing sebanyak 460, 643, dan 384 rumah tangga.

loading...
loading...