Budidaya Ikan Lele Mau Berjalan Sukses? Gunakan Roter Saja!


Pertanianku – Ikan Lele termasuk salah satu komoditas perikanan yang paling banyak dibudidayakan. Hal tersebut karena permintaan ikan lele di pasaran cukup tinggi. Selain itu, kini telah banyak teknik untuk menjalankan usaha budidaya lele yang sangat menguntungkan dengan biaya yang ekonomis.

Seperti Ali Shidqi Fathan, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Swadaya Gunungjati, Cirebon, dan juga seorang pembudidaya ikan lele asal Cirebon, Jawa Barat. Ia menjalankan usaha budidaya lele di kolam miliknya yang berukuran 4 × 6 meter dengan ketinggian air 1 meter ini bisa memanen lele hingga 800 kg. Dengan harga jual Rp14.000 per kg, sedikitnya Ali mampu mengantongi omzet Rp11,2 juta per panennya.

Omzet yang dikantongi ini pun tak lepas dari keberhasilannya meningkatkan produksi lele, memangkas waktu panen, dan menghemat biaya produksi. Inovasi budidaya lele yang dianut Ali tak lain adalah dengan mengganti pakan pelet dengan pakan alami yang tersedia di kolam dan pakan berbahan limbah.

Ali menerapkan cara pemberian pakan alami dengan memfermentasi kotoran hewan (kohe) selama 30 hari menggunakan larutan roter alias ramuan organik untuk ternak.

“Inilah yang membuat biaya produksi lele lebih hemat karena larutan untuk fermentasi bisa diproduksi sendiri oleh peternak,” jelas Ali.

Menurut Ali, peternak bisa membuat sendiri larutan roter. “Untuk bahan baku pembuatan roter hanya menghabiskan biaya Rp300.000,” tutur Ali.

Bahan-bahan untuk membuat larutan roter tersebut antara lain 1 kg rumput laut (jika tidak ada bisa diganti dengan azola), 5 buah pisang, 1 buah nanas, 1 ikat kangkung air (diambil dengan batang dan akarnya), 0,5 liter yoghurt, 5 botol minuman probiotik, 100 gram usus ikan nila, 1 kg gula merah, 4 butir ragi tape, 5 liter air kelapa, 4—5 ekor kepiting batu, 3 sendok makan ragi roti, dan 5 liter air sumur.

Baca Juga:  Budidaya Ikan Lebih Mudah dengan Kolam Terpal, Ini Alasannya

Cara membuatnya, blender rumput laut/azola, pisang, kangkung air, dan nanas. Kemudian haluskan usus ikan nila dan kepiting batu (diblender lebih baik). Larutkan gula merah dalam 5 liter air mendidih dan biarkan sampai dingin. Selanjutnya, campurkan semua bahan, aduk selama 3—5 menit. Setelah tercampur, simpan bahan dalam wadah tertutup seperti jerigen selama 14 hari. Ada baiknya Anda pun membuat aerator agar aman. Setelah itu, kocok larutan setiap 2—3 hari selama 5 menit.

Cara pemakaian roter, untuk fermentasi pakan, larutkan 10 ml larutan roter dengan 3—4 sendok gula merah dalam 20 liter air. Sementara itu, untuk pengurai bahan organik di air kolam, dengan luas kolam 3 × 4 m, campur 1 gelas roter dengan 2—3 sendok gula merah, lalu siramkan ke air kolam.

Nah, larutan roter yang telah Anda buat tersebut bisa juga Anda perbanyak. Caranya, siapkan bahan larutan roter sebanyak 1 liter, gula kelapa 1 kg (didihkan dahulu), 5 liter air kelapa, 5 botol minuman probiotik, 2—3 kg dedak (didihkan dulu, ambil airnya), dan 100 gram terasi.

Cara membuatnya, campur seluruh bahan lalu fermentasikan dalam wadah tertutup selama 14 hari. Jika berbau busuk, artinya larutan roter yang Anda perbanyak gagal. Jika berhasil, larutan akan beraroma wangi tapai.

Dalam aplikasinya ke kolam lele, Ali menebarkan seluruh bahan secara merata di dasar kolam, kemudian merendamnya dengan air hingga ketinggian 5 cm. Setelah itu, ia membiarkannya selama 2 pekan sampai air kolam berubah menjadi cokelat kehijauan.

“Itu pertanda sudah ada plankton yang tumbuh. Setelah itu, tambahkan air kolam hingga 25—30 cm dan kolam pun siap diisi bibit lele,” papar Ali.