Budidaya Jamur Merang Buktikan Berwirausaha Tak Perlu Modal Besar


Pertanianku — Pernyataan berwirausaha harus selalu dalam skala besar dengan modal yang besar pula berkembang di masyarakat. Padahal, kegiatan yang dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah tersebut bisa juga dilakukan dalam skala rumah tangga dengan modal yang sangat minim. Misalnya saja, dengan budidaya jamur merang di lahan kosong pekarangan rumah.

budidaya jamur merang
Peserta Workshop Jamur Merang, Sabtu (27/1/2018) sedang mempraktikkan cara menanam jamur merang

Pada Sabtu, (27/1/2018) lalu, Khadija Initiative menggelar workshop tentang jamur merang yang diperuntukkan bagi ibu-ibu rumah tangga terutama single mom. Pelatihan tersebut dilakukan dalam rangka mengedukasi para ibu rumah tangga untuk menanam jamur merang. Selain bisa dijadikan makanan sehari-hari, jamur merang yang ditanam oleh para ibu rumah tangga ini juga bisa dijadikan ladang penghasilan.

Dissy Kaydee, Inisiator dan Fasilitator Khadija Initiative mengatakan, jamur merang sengaja dipilih untuk workshop kali ini karena beberapa alasan. Pertama karena pengaplikasiannya yang mudah sehingga bisa dimengerti oleh ibu rumah tangga bahkan anak-anak.

Kemudian, bibitnya sangat murah dan perawatannya yang hanya menggunakan sisa-sisa sampah organik rumah tangga. Selain itu, panennya pun cepat yang hanya memerlukan waktu 10 hari dan dapat dipanen setiap hari selama 2 minggu.

“(Jamur merang) bernilai tinggi, di pasaran sekilo bisa Rp40 ribu, sedang sekali panen bisa mencapai 5 kilogram. Juga menyehatkan, karena proteinnya lebih tinggi daripada ayam dan daging yang lebih mahal serta berkolesterol tinggi,” ujar Dissy.

Workshop ini terlaksana berawal dari kepedulian Dissy terhadap para ibu rumah tangga terutama single mom yang memang berjuang mencari penghasilan sendiri. Maksud dari pelatihan jamur merang ini juga ia sebut sebagai upaya untuk membuka wawasan dan membuka peluang bisnis yang menjanjikan dari budidaya jamur merang skala rumahan.

Pada workshop kali ini terlihat antusias para peserta sangat tinggi. Mereka aktif bertanya sejak pelatihan dimulai. Ines Setiawan, trainer workshop tersebut juga sedikit kewalahan karena dibanjiri pertanyaan dari para peserta, namun ia tetap bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu.

Baca Juga:  Cara Sederhana Membuat Bioaktivator

Selain para ibu rumah tangga, anak-anak yang ikut dengan para mommy-nya pun turut antusias dalam mempraktikkan pelatihan yang disampaikan oleh Ines. Ini membuktikan bahwa workshop tersebut memang sangatlah diminati.

“Saya suka menanam, apalagi menanam jamur ini memanfaatkan sampah rumah tangga jadi workshop ini sangat tepat. Khususnya ibu-ibu rumah tangga ‘kan suka memasak jadi sampahnya tidak langsung dibuang tapi bisa dijadikan ladang penghasilan. Saya juga senang di weekend ini dapat ilmu dan nambah wawasan siapa tahu saya bisa jadi pengusaha,” tutur Endah Sucihati, salah seorang peserta workshop jamur merang.